Minggu, 03 April 2016

Seblak Ceker Ayam Connecting People

Long time ago, kalau bikin seblak, saya pakai kemiri biar ada kesan lengket dan juicynya. Tapi kali ini karena bermain ceker ayam, rasanya gak perlu pakai kemiri karena ceker ayam sendiri sudah akan mengeluarkan zat kolagennya ketika diolah di atas wajan. Ini adalah seblak ceker ayam yang menurut saya masih kurang dari target rasa yang ada di benak saya, yaitu kesan empuk, meresap, dan pedas asam asin manis yang pas. Hehe

Well then, postingan ini tentang hal-hal yang tadi saya siapkan dan kerjakan. Durasi totalnya ternyata enam jam karena membersihkan kulitnya lama banget.

Alhamdulillah dari mas sayurnya sudah dibersihkan kuku cekernya terlebih dahulu. Karena saya enggak tegaan kalau harus memotong-motong bagian tubuh hewan yang masih kentara bentuknya. Maaf ya, ayam ...

Sedikit cerita, ketika membersihkan kulit ceker ayam di air hangat kuku, saya beberapa kali merasa seperti memahami betapa dalam makna dari iklan Nokia: Connecting People yang diikonkan dengan adegan genggaman tangan. Berarti 35 kali saya bergenggaman dengan ceker ayam (saya betul-betul menghitung jumlah ceker ayamnya ternyata) dan merasa betul bahwa genggaman tangan itu menghangatkan dan membuat perasaan jadi lebih bonding satu sama lain (jan ... iki opo toooh).

Kebanyakan bengong saat memasak ya resikonya begini ini. Ckck

Berikut alat, bahan, dan stepnya. Selamat mencoba untuk Anda yang sempat mampir (biasanya pengunjung blog saya accidently mampir hehehe). Nuhun.

Seblak Ceker Ayam
alat:
1. lumpang+alu
2. sodet kayu
3. kuali
4. talenan
5. pisau
6. lampin


bahan:
1. ceker ayam
2. daun bawang (1 batang)
3. lada (satu sendok makan)
4. bawang putih (3 besar)
5. bawang merah (8 sedang)
6. cabai merah (5)
7. kencur (2 ukuran ibu jari)
8. cabai rawit (5)
9. tomat (1)
10. saus (1 sdm)
11. penyedap (1/4 bungkus)
12  gula pasir (1 sdt)


step terlama yaitu ketika mempersiapkan ceker ayamnya.

Pertama, cuci sambil hilangkan kulit luar yang berwarna kekuning-kuningan mirip sisik. Gunakan pisau sebagai bantuan. Jika masih sulit, coba rendam air panas, tunggu beberapa lama, baru coba untuk membersihkan kulitnya lagi.

Kedua, rebus ceker ayam bersama air garam (1 sdm garam+air secukupnya) dalam panci besar. Tunggu sampai empuk. Ciri-ciri empuk versi saya adalah ketika daging dan kulit ceker bagian pangkal sudah ada yang mengelupas atau mau lepas atau urat-uratnya yang terlihat, tampak menghitam. Ketiga, tiriskan.


Langkah kerja:
1. haluskan semua bumbu dapur yang disebutkan di atas dengan lada sebagai yang pertama dihaluskan dan tomat yang terakhir dihaluskan. Alasannya, karena sebagai biji-bijian, lada butuh space yang luas untuk dihaluskan. Dan tomat begitu mudah dihaluskan kecuali kulitnya.
2. iris daun bawang. potong dadu.
3. panaskan 1-2 sdm minyak goreng.
4. tumis bumbu dalam api kecil-sedang. Aduk terus kecepatan stagnan agar bumbu tidak lengket di wajan dan matang secara adil dan merata (apadah ...)
5. begitu ada indikasi harum dan kematangan bumbu (yaitu terjadi perubahan warna dan tekstur yang semula lembut menjadi agak menggumpal kecil-kecil alias ngegank), tambahkan saus, garam, gula, dan penyedap. Aduk lagi.
6. tambahkan sedikit air (1/2-1 gelas)
7. ketika mendidih, cicipi kuahnya. Tambahkan bumbu yang dirasa kurang sesuai selera.
8. masukkan ceker ayam. aduk. Biarkan mendidih dan meresap kurleb 3 menit.
9. matikan api.
10. taburkan daun bawang. Aduk.


Ambil sejumput kuah dalam sendok lalu tanyakan pada kakakmu, adikmu, Ibu, bapak, tetanggamu, atau kucing di rumahmu: "Kurang apa gitu, enggak?"

sekian.
/kit

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLLzQI17Q7h_vPOpK6UXjE7kzEemCCScgwiwMd7lbdZDX3zMcbVYlJyMybnqAh8GYOtxtB-FByO_oF59gtp7-TezT6UtZ5J99K9BK4RbhmFXg_6ka-J6vH4006lLY8CIyi5KHBwJAha3k/s640/20160403_182106.jpg


Minggu, 06 Maret 2016

Pernah





Padanya, aku pernah mendapati sesuatu yang dalam, yang mungkin telah banyak membaca sekitar. Tempat yang hanya sesekali aku berani untuk mencuri dengar, mengintip sibakkannya walau samar, sekejap. Yang dapat terlihat dengan mudah apakah sedang terundang tawanya atau terpancing kesedihannya untuk pertanyaan-pertanyaan yang barangkali urung ia temukan jawabannya, tanpa perlu aku melihat guratan pada bibir atau lekuk alisnya. Ini juga adalah sesuatu yang tiada dari Abdullah bin Ummi Maktum, namun jika boleh kutaksir, cerminnya tidak pernah khianat, tetap indah bahkan boleh jadi lebih gemilang oleh karena syukurnya atas nikmat yang lebih besar yang tersembunyi dibalik tiada dapat dinikmatinya salah satu inderanya itu.


Tidak, aku pun belum mengerti betul apa sebab ketika suatu kali temanku berkata bahwa ia tak pernah sanggup melihat sorot orang lain untuk waktu yang lama. Sehingga aku tersadar bahwa ada Yang Maha dari apa yang sedang kumahakan dalam benak. Itu sepertinya adalah sebab mengapa Angku Haji menikmati waktu berjam-jam di tepi dipan untuk mengenangkan mendiang istrinya dengan menafakuri ayat-ayat suci. 


Tempat yang paling indah? Ya, pernah kudapati dalam suatu masa, sorot dalam matanya.

Senin, 29 Februari 2016

(spasi) Titik Tiga Kali







Ada suatu strategi yang mungkin aneh. Tapi saya menyebutnya seperti bermain layang-layang. Tarik ulur.

Tidak mengizinkan untuk tumpah ruah karena mengharap tumpah ruahnya bisa dicicil hingga awet untuk dapat selalu diingat dalam doa. Hal yang mungkin akan saya ingat selama tiga bulan di sana adalah perbaikan tata bahasa tulis. Titik tiga kali. Berbulan-bulan sebelumnya memang tanda baca ini menempati ruang penasaran yang khusus di kepala.

Ia adalah suatu tanda khusus yang melambangkan intonasi bagi seseorang. Sebuah poin penting yang membuat bahasa tulis menjelma menjadi seolah-olah bahasa lisan ketika dibaca. Sebagaimana diketahui bahwa intonasi kemudian merepresentasikan manner atau cara dan maksud pesan yang disampaikan.

Sebaliknya, transkriptor yang mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan memaknai titik tiga kali bukan sebagai intonasi. Titik tiga kali dalam kesepakatan bersama yang kemudian dipatenkan menjadi standar yang mesti diikuti bersama, adalah sebuah tanda jeda yang bukan koma. Jeda yang mewakili pengulangan berpikir ketika kata terucap atau kadung terserimpet. Titik tiga penting adanya. Karena diam sejenak bukannya tanpa makna.

The best hello is farewell. Agar ketika berpisah, emosi yang tumpah dalam kadar yang wajar jadi terjaga kestabilannya untuk kedepannya. Bukan karena tak berarti apa-apa. Justru sikap tersebut bisa jadi merupakan perwujudan benteng dari anti melankolis yang hanya muncul pada diri orang melankolis namun tidak berani.

"Don't it always seems to go, that you don't know what you've got till it's gone."

Saudara-saudara baru yang memberikan pengalaman-pengalaman baru. Bukan tanpa alasan Allah mempertemukan insan-insan di muka bumi yang sempat menjadi pemisah bertahun-tahun bagi Nabi Adam a.s dan Hawa dalam pencarian yang sama. Sebagaimana pertemuan, perpisahan pun sama dengan jodoh. Bukan tanpa makna, bukan minus hikmah, setiap memori dan pembelajaran bermanfaat yang terbetik pasti akan dapat didapat hikmahnya. Kenangan terbaik adalah pembelajaran. Bukan yang kita minta, Allah swt memberikan apa yang kita butuhkan. Karena aku telah sempat bertemu denganmu (jamak), berarti demi berlanjutnya perjalanan kisahku ke depannya memang butuh untuk dimulainya jalinan silaturrahimku denganmu sebelumnya. Itu maksudnya jodoh.

Alhamdulillah. Bubarnya kami bertepatan dengan konsistennya hujan turun, dibubarkannya tempat prostitusi Kalijodo, dan divonis seumur hidupnya Ibu angkat almarhumah Angeline.
(ndak nyambung? ndak apa-apa).


 Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi) 


/kit

Kamis, 25 Februari 2016

Presipitasi


Tersenyumlah, atau gusar sekalian. 

Hanya ketika hujan turun.
Partikel air yang serentak turun menyapa bumi belahan tertentu memang biasanya memancing emosi-emosi yang kadarnya lebih dari biasa. Rasulullah pun menyapa hujan secara langsung karena hujan adalah ciptaan Allah yang segera menyapa seluruh penghuni bumi begitu ia tercipta. Fresh from the oven.

Segala macam doa yang berpilin naik menyambar rentetan partikel yang senantiasa turun bergandengan. Sebelum hingga akhirnya percik dapat kita rasai di kulit, partikel air menghadapi pintu-pintu rintangan tertentu untuk kemudian dapat ditentukan apakah diterjemahkan menjadi hujan atau akan lainnya. Sebelum partikel-partikel air menerjang turun, perlu adanya kerja sama antara awan, angin, dan atmosfer (suhu permukaan) suatu kawasan agar pada akhirnya kita menyebutnya hujan. Karena jika angin meniupkan awan ke tempat yang memiliki suhu panas, partikel air yang turun seketika akan buyar memecah ke segala arah untuk kemudian naik kembali menjadi uap, dan kita menamainya virga atau hujan yang batal.

Jika ada partikel air yang turun dari awan pun tidak lekas dapat disebut hujan. Kenapa? Karena jika ia turun sendirian, ia pasti dan tidak mungkin sebuah hujan. Hujan adalah partikel air yang akan bersama-sama dengan kawan-kawan lainnya menaati pola tertentu agar tunduk pada keteraturan. Hal yang dapat mengecohkan formasinya mungkin hanya angin. Itu pun hanya sebagai pengecoh arah, bukan pengecoh formasi dan kehadirannya hanya sebagai pelengkap, bukan hal yang pasti selalu ada ketika hujan turun.

Jika mendengar kata hujan, apa lagi yang langsung terpikirkan? Petrichorkah salah satunya?
Harum yang menyerupai aerosol akan dengan segera menyapa indera penciuman semua makhluk. Ia adalah sebuah akibat dari partikel air yang ketika menghujam tanah akan langsung menghasilkan gelembung-gelembung super kecil yang menghentak kemudian melayang ke udara mengikuti arah angin agar tersebar ke segala penjuru. Sesuatu yang membuat kita menyadari turunnya hujan meskipun kita berada jauh dari ruang terbuka. Bau tanah.


El Nino La Nina 
Ingatkah ketika musim panas lalu, hampir setiap berita televisi menyiarkan bahwa seluruh kota besar sedang dilanda krisis air bersih. Jual beli air terjadi dengan harga yang tinggi, masyarakat pegunungan bahkan mesti rela bergilir di setiap pekan untuk mendapatkan pasokan air dari pegunungan, masyarakat kepulauan menghadapi intrusi air laut yang membuat sumur-sumur asin dan tidak memungkinkannya tadah hujan dilakukan untuk menyirami pepohonan, bahkan, menghadapi kenyataan rusaknya membran pada alat Seawater reverse osmosis milik swasta yang menjadi andalan masyarakat dalam mendapatkan air bersih meski dengan membeli seharga tujuh ribu rupiah per galon kecilnya.

Indonesia tandus, tanah merahnya retak, pegunungannya bergilir mendapat air, sawah mesti rela gagal panen dan ikan-ikan mesti rela pula dipetik paksa jika hujan belum juga turun.

Lalu kemudian kita seperti belajar sukarnya air pada musim panas lalu. Musim hujan kali ini meskipun mengakibatkan munculnya genangan di beberapa tempat dan angin badai yang hadir lebih deras dari biasanya, keluhan tidak banyak dilontarkan. Namun, siapkah kita jika nanti roda berputar lagi dan musim panas hadir kembali?

Seiring dengan kecanggihan teknologi dan kemampuan manusia zaman ini yang menobatkan diri sebagai manusia modern untuk belajar cepat, mestinya juga diimbangi dengan kesiapan adaptasi atau masuk pada pola baru dari perubahan-perubahan yang ada.

Berkah
Dalam rangka bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, populasi kita yang kian bertambah (dan disinyalir menjadi faktor penyebab dari segala problem yang baru-baru ini muncul, katanya) mestinya juga dibarengi dengan usaha memperbaiki dan menabung sumber daya serta energi. Hemat. Musim hujan tiba mestinya rumah-rumah kita telah siap dengan fasilitas sumur resapan atau penampungan di atap untuk dapat memanen air. Perbaikan water table (muka air tanah) juga dapat dilakukan dengan pembuatan Lubang Resapan Biopori sebagai teknologi tepat guna. Sehingga rahmat yang datang, benar-benar dapat kita rasai sebagai berkah yang berkepanjangan. Bukan hanya sesuatu yang kita rasai dan maknai ketika ia turun menyapa.
Bukan jumlah yang menjadi masalah, melainkan kemampuan kita menghadapi dan menyelesaikan problema yang ada dengan kecanggihan dan keunggulan manusia dari pada makhluk lainnya berupa akal. Bagaimana kemudian kita dapat mengakali masalah yang ada dengan memperbaiki perilaku hidup kita, dari yang kecil hingga yang besar.

Masih ada salju dan virga selain hujan sebagai output dari siklus hidrologi yang berjalan. Hanya saja, hujan merupakan barokah untuk kita yang dapat diambil hikmah atas kehadirannya. Sebuah biji akan menjadi bibit tanaman untuk kemudian menjadi pohon yang dapat kita petik manfaatnya secara berkelimpahan.

Jika kita lupa membawa payung atau jaket, jangan pernah kecewa dan menyalahkan hujan sebagai penyebab dari ketidaknyamanan yang menimpa. Ingat saja sebab dari adanya tanaman-tanaman yang ada di sekitar, dan berhujan-hujananlah sesekali. Menyewa jasa ojek payung juga tidak buruk. Siapa tahu memang Allah menakdirkan untuk dapat bersilaturahim dengan seseorang hanya jika hujan turun ketika itu. Dan lalu jika ada banyak waktu luang,  kita bisa memperhatikan pekerjaan apa saja yang hanya muncul justru ketika hujan turun. Seperti seorang bapak yang berjalan santai dengan gerobaknya yang dipenuhi jas-jas hujan dagangan. Barangkali ada sebersit syukur dan takjub.

Jikapun ia rela turun, ia kan turun bukan karena ingin kita. Namun, karena memang Allah menghendaki untuk itu. Ia, yang dengan kehadirannya dapat membawa gumam-gumaman dalam bathin meski hanya sepintas.


/kit

Senin, 22 Februari 2016

Retak dan Rekat

Retak dan rekatnya tergantung pada pengguna dan pendengarnya. Karena komunikasi merupakan tali yang digenggam oleh dua arah. Jika hanya satu yang memegang talinya, itu disebut penyampaian informasi.

Untuk hal yang paling 'remeh' karena dapat saja dikeluarkan meskipun tanpa indera. Kata akan terungkapkan dengan atau tanpa perantara. Sebagaimana maksud yang akan tersampaikan bahkan tanpa dimaksudkan untuk disampaikan.

Bagaimana sebenarnya kita memaknai silaturahim? Sebuah tali transparan yang menghubungkan jiwa kita dalam berselaraskah?

Yang menjadi kesalahan adalah ketika kacamata kadung menyamaratakan segala warna yang terlihat. Sehingga luput dari lensa bahwa ternyata ketidakadilan tengah terjadi, sejak dalam penglihatan.

Sebuah kamus akan mengalami revisi karena begitu banyak kata baru yang masuk seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Mungkin begitu pula yang terjadi kepada kamus yang kita miliki. Jumlah lemanya bertambah, definisi dari lema-lema yang sudah ada sebelumnya bisa saja dierbaharui atau disunting. Yang menjadi sebuah kesalahan adalah ketika kita mengira kamus kita begitu populer sehingga tidak dibutuhkan untuk menjelaskan kepada pemilik kamus lain untuk saling bertukar pemahaman, Keinginan untuk dimengerti, ketidakberanian mengungkapkan maksud bisa saja terjadi hingga berujung pada kekecewaan ketika mengalami kegagalan dalam berkomunikasi.


Rabu, 20 Januari 2016

Mau Masuk Sosial Media, Mas?


Aku berjilbab, 22 th, tinggi 145 cm, massa 46 kg, seorang miopi dengan minus 1.5 untuk mata kanan dan 2 untuk mata kiri, sendirian menunggu Kopaja 502 yang lewat Jalan Kebon Sirih. Ketika itu sekitar pukul 20.00 WIB lewat.


Karena pernah memiliki pengalaman dimarahi orang rumah akibat tidak memberi kabar lokasi keberadaan dalam perjalanan pulang, maka aku sesekali mengeluarkan hand phone untuk mengecek baterai dan whats app.


Kopaja yang datang kemudian setelah aku menunggu cukup lama memiliki sorot lampu yang redup bahkan bisa saja disebut padam. Kondisi lampu di dalamnya pun sama saja, gelap. Dalam kondisi cahaya yang seperti itu, penumpang kopaja tersebut memang tidak banyak. Bisa saja sekitar tujuh orang yang masuk bebas memilih tempat duduk di mana saja yang masih kosong.


Dengan santai kupilih kursi di seberang pintu keluar sebelah depan. Kutempati tempat itu seorang diri di sebelah luar. Hand phone yang ku isi dayanya dengan menggunakan power bank kusimpan di kantung bagian bawah luar tas ranselku. Kantung bagian itu memang tidak menggunakan ritsleting melainkan menggunakan busa rekat. Ketika asyik mengamati, kuperhatikan ada satu kernet tambahan yang baru saja naik menjelang Tugu Tani.


Lama-lama, seiring berjalannya waktu, bangku-bangku yang kosong pun mulai terisi. Ketika aku beranjak berdiri hendak turun di tujuan, seseorang di seberang samping ikut berdiri mendahuluiku. Seperti hendak lebih dulu turun. Kami agak bertubrukan depan belakang beberapa detik akibat ulah supir. Dan dalam keremangan akhirnya aku menyadari ada sesuatu yang menghubungkan antara tasku dengan tasnya. Tasku kugendong di sebelah depan sedangkan tasnya diletakkan di belakang.


Tanpa kaca mata dan dalam keremangan kupegang benda tersebut yang seolah mirip seutas benang. Ternyata itu adalah kabel. Kabel power bank. Kenapa kah ia menggantung ke luar? Kutelusuri kabel tersebut dan voila! Putus. Tidak terhubung pada apapun. Maka kutelusuri lagi pangkal yang satunya dan kutemukan power bank di sana. Masih dalam satu wadah mestinya aku bisa merasakan keberadaan hand phone ku tapi nihil. Penemuan kabel, penelusuran, dan pencarian hape hanya berjalan beberapa detik saja sampai ku tepuk pundak seseorang di depanku tersebut.


“Mas, maaf, boleh duduk sebentar? Hape saya enggak ada.” Tanyaku.


Ia mengaku tidak tahu-menahu di mana keberadaan hapeku. Namun protesnya tidak keras, seperti demokratis. Maka kulanjutkan untuk menginterogasinya sambil mengumpulkan ketenangan.


“Bu, mohon jadi saksi saya, ya. Kabel ini tadi saya temukan di luar tas dalam keadaan menggantung tanpa ada hand phone-nya.” Kataku tegas dan memohon kepada dua-tiga ibu-ibu yang duduk di belakang ku.


Seorang ibu mengiyakan dan mendukung kecurigaanku dengan mengatakan menjadi saksi bahwa tangan orang itu memang ke mana-mana.


Sudah kubilang kan tinggiku hanya 145 cm? sedangkan ia adalah seorang laki-laki bertubuh gemuk dan lebih tinggi dari aku. Bagaimana caranya untuk menggeledahnya (orang itu masih saja menurut ketika ku meminta izinnya untuk menahan tas dan jaketnya untuk kuperiksa)? Maka, kuputuskan untuk melibatkan warga penumpang kopaja entah untuk menjadi saksi atau untuk menjadi rekanku dalam penggeledahan.


Ketika ku bertanya adakah yang bersedia untuk menggeledah? Semua diam. Sebenarnya aku mengharapkan bantuan kernet untuk kooperatif. Karena ini kan busnya. Sesekali juga kupandang kernet utama serta supir yang hanya sesekali menengok ke arahku.


Seorang kernet yang baru saja naik justru mengatakan bahwa tidak mungkin ada pencopetan di sana. Oke, baiklah. Ku pandang lekat-lekat mata orang itu. Alisnya tebal dan bertaut namun sorot matanya tampak agak takut. Jika dia benar, pasti sorot matanya tidak akan seperti itu. Kukatakan bahwa aku akan mengajaknya turun ke polsek terdekat yaitu polsek matraman untuk penggeledahan. Karena dengan kondisiku yang sendirian tanpa dukungan bantuan fisik, aku membutuhkan pertolongan walaupun hanya sekedar penggeledahan. Penting karena ini menyangkut siapa yang bicara benar dan siapa yang bicara bohong.


Orang tersebut tetap diam dan membela diri dengan meracau opsi kemungkinan lain atas raibnya handphoneku.


“Mungkin jatuh sewaktu Mbak duduk.” Ujarnya.


Maka aku bilang itu tidak mungkin karena kutemukan kabelnya keluar dan menegang ke depan dan ketika ku tarik, hand phonenya yang raib.


Ajaib. Ia mengeluarkan hand phoneku dari sebelah kanannya dan mengatakan itu ia temukan dalam kondisi terjatuh. Ketika ku perhatikan memang itu hand phone ku. Dengan cepat untuk menghindari fitnah atasku, aku mengajukan opsi lagi padanya. Ke Polsek Matraman untuk tes sidik jari, masuk sosial media, atau mengakui perbuatannya. Kutekankan pada opsi mengenai sosial media. Aku membayangkan betapa menakutkannya opsi itu karena beberapa hand phone menyorotkan lampu senternya ke arah kami. Seramkah ketika mendapatkan suasa tetangga, adik, kakak, orang tua mengetahui wajah dan perilaku kriminal memalui media sosial? Ya. Itu seram di zaman candu teknologi seperti ini.


Ia tetap bungkam dan memandang lurus ke depan. Dengan perasaan berkecamuk, sedih, iba, marah, ku katakan sekali lagi pada matanya dengan nada halus meminta kepercayaan. Aku akan memaafkannya jika ia mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Karena aku masih berharap sosok kebaikan dari dirinya. Dia tetap bungkan dan memandang lurus ke depan. Oke, ku katakan dengan tegas dengan perasaan kecewa. Baiklah, kita ketemu saja ya nanti di akhirat untuk masing-masing memberi kesaksian yang sebenarnya.


Maka kugenggam erat hand phone dan kuteriakkan password agar kopaja berhenti dan meminggir ke kiri. Ketika aku turun, bocah pengamen yang sebelumnya sempat kuberikan receh ikutan turun dan menyapa serta mengajakku bercakap-cakap sedikit.


Setengah gemetar aku merasa sangat senang karena sempat memiliki teman mengobrol menceritakan yang baru saja terjadi. Dan ku lihat bocah pengamen itu mengobrol sambil tersenyum.


Apakah aku kapok naik kendaraan umum? Tidak. Karena dibalik semua rencana jahat yang mungkin saja terjadi, masih ada kemungkinan lain, dan selalu ada kesempatan untuk mendapatkan secuplik hal-hal baik dari sana.


Mau Masuk Sosial Media, Mas?


Aku berjilbab, 22 th, tinggi 145 cm, massa 46 kg, seorang miopi dengan minus 1.5 untuk mata kanan dan 2 untuk mata kiri, sendirian menunggu Kopaja 502 yang lewat Jalan Kebon Sirih. Ketika itu sekitar pukul 20.00 WIB lewat.


Karena pernah memiliki pengalaman dimarahi orang rumah akibat tidak memberi kabar lokasi keberadaan dalam perjalanan pulang, maka aku sesekali mengeluarkan hand phone untuk mengecek baterai dan whats app.


Kopaja yang datang kemudian setelah aku menunggu cukup lama memiliki sorot lampu yang redup bahkan bisa saja disebut padam. Kondisi lampu di dalamnya pun sama saja, gelap. Dalam kondisi cahaya yang seperti itu, penumpang kopaja tersebut memang tidak banyak. Bisa saja sekitar tujuh orang yang masuk bebas memilih tempat duduk di mana saja yang masih kosong.


Dengan santai kupilih kursi di seberang pintu keluar sebelah depan. Kutempati tempat itu seorang diri di sebelah luar. Hand phone yang ku isi dayanya dengan menggunakan power bank kusimpan di kantung bagian bawah luar tas ranselku. Kantung bagian itu memang tidak menggunakan ritsleting melainkan menggunakan busa rekat. Ketika asyik mengamati, kuperhatikan ada satu kernet tambahan yang baru saja naik menjelang Tugu Tani.


Lama-lama, seiring berjalannya waktu, bangku-bangku yang kosong pun mulai terisi. Ketika aku beranjak berdiri hendak turun di tujuan, seseorang di seberang samping ikut berdiri mendahuluiku. Seperti hendak lebih dulu turun. Kami agak bertubrukan depan belakang beberapa detik akibat ulah supir. Dan dalam keremangan akhirnya aku menyadari ada sesuatu yang menghubungkan antara tasku dengan tasnya. Tasku kugendong di sebelah depan sedangkan tasnya diletakkan di belakang.


Tanpa kaca mata dan dalam keremangan kupegang benda tersebut yang seolah mirip seutas benang. Ternyata itu adalah kabel. Kabel power bank. Kenapa kah ia menggantung ke luar? Kutelusuri kabel tersebut dan voila! Putus. Tidak terhubung pada apapun. Maka kutelusuri lagi pangkal yang satunya dan kutemukan power bank di sana. Masih dalam satu wadah mestinya aku bisa merasakan keberadaan hand phone ku tapi nihil. Penemuan kabel, penelusuran, dan pencarian hape hanya berjalan beberapa detik saja sampai ku tepuk pundak seseorang di depanku tersebut.


“Mas, maaf, boleh duduk sebentar? Hape saya enggak ada.” Tanyaku.


Ia mengaku tidak tahu-menahu di mana keberadaan hapeku. Namun protesnya tidak keras, seperti demokratis. Maka kulanjutkan untuk menginterogasinya sambil mengumpulkan ketenangan.


“Bu, mohon jadi saksi saya, ya. Kabel ini tadi saya temukan di luar tas dalam keadaan menggantung tanpa ada hand phone-nya.” Kataku tegas dan memohon kepada dua-tiga ibu-ibu yang duduk di belakang ku.


Seorang ibu mengiyakan dan mendukung kecurigaanku dengan mengatakan menjadi saksi bahwa tangan orang itu memang ke mana-mana.


Sudah kubilang kan tinggiku hanya 145 cm? sedangkan ia adalah seorang laki-laki bertubuh gemuk dan lebih tinggi dari aku. Bagaimana caranya untuk menggeledahnya (orang itu masih saja menurut ketika ku meminta izinnya untuk menahan tas dan jaketnya untuk kuperiksa)? Maka, kuputuskan untuk melibatkan warga penumpang kopaja entah untuk menjadi saksi atau untuk menjadi rekanku dalam penggeledahan.


Ketika ku bertanya adakah yang bersedia untuk menggeledah? Semua diam. Sebenarnya aku mengharapkan bantuan kernet untuk kooperatif. Karena ini kan busnya. Sesekali juga kupandang kernet utama serta supir yang hanya sesekali menengok ke arahku.


Seorang kernet yang baru saja naik justru mengatakan bahwa tidak mungkin ada pencopetan di sana. Oke, baiklah. Ku pandang lekat-lekat mata orang itu. Alisnya tebal dan bertaut namun sorot matanya tampak agak takut. Jika dia benar, pasti sorot matanya tidak akan seperti itu. Kukatakan bahwa aku akan mengajaknya turun ke polsek terdekat yaitu polsek matraman untuk penggeledahan. Karena dengan kondisiku yang sendirian tanpa dukungan bantuan fisik, aku membutuhkan pertolongan walaupun hanya sekedar penggeledahan. Penting karena ini menyangkut siapa yang bicara benar dan siapa yang bicara bohong.


Orang tersebut tetap diam dan membela diri dengan meracau opsi kemungkinan lain atas raibnya handphoneku.


“Mungkin jatuh sewaktu Mbak duduk.” Ujarnya.


Maka aku bilang itu tidak mungkin karena kutemukan kabelnya keluar dan menegang ke depan dan ketika ku tarik, hand phonenya yang raib.


Ajaib. Ia mengeluarkan hand phoneku dari sebelah kanannya dan mengatakan itu ia temukan dalam kondisi terjatuh. Ketika ku perhatikan memang itu hand phone ku. Dengan cepat untuk menghindari fitnah atasku, aku mengajukan opsi lagi padanya. Ke Polsek Matraman untuk tes sidik jari, masuk sosial media, atau mengakui perbuatannya. Kutekankan pada opsi mengenai sosial media. Aku membayangkan betapa menakutkannya opsi itu karena beberapa hand phone menyorotkan lampu senternya ke arah kami. Seramkah ketika mendapatkan suasa tetangga, adik, kakak, orang tua mengetahui wajah dan perilaku kriminal memalui media sosial? Ya. Itu seram di zaman candu teknologi seperti ini.


Ia tetap bungkam dan memandang lurus ke depan. Dengan perasaan berkecamuk, sedih, iba, marah, ku katakan sekali lagi pada matanya dengan nada halus meminta kepercayaan. Aku akan memaafkannya jika ia mengakui perbuatannya dan meminta maaf. Karena aku masih berharap sosok kebaikan dari dirinya. Dia tetap bungkan dan memandang lurus ke depan. Oke, ku katakan dengan tegas dengan perasaan kecewa. Baiklah, kita ketemu saja ya nanti di akhirat untuk masing-masing memberi kesaksian yang sebenarnya.


Maka kugenggam erat hand phone dan kuteriakkan password agar kopaja berhenti dan meminggir ke kiri. Ketika aku turun, bocah pengamen yang sebelumnya sempat kuberikan receh ikutan turun dan menyapa serta mengajakku bercakap-cakap sedikit.


Setengah gemetar aku merasa sangat senang karena sempat memiliki teman mengobrol menceritakan yang baru saja terjadi. Dan ku lihat bocah pengamen itu mengobrol sambil tersenyum.


Apakah aku kapok naik kendaraan umum? Tidak. Karena dibalik semua rencana jahat yang mungkin saja terjadi, masih ada kemungkinan lain, dan selalu ada kesempatan untuk mendapatkan secuplik hal-hal baik dari sana.