Minggu, 26 Juli 2015

Ternyata Kita


Maaf untuk semak bambu jepang yang tempo waktu mesti tercerabut sampai ke akar hingga tak berbekas sama sekali. Saya belum bisa jadi politikus.

Saya berjanji dengan seseorang untuk bertemu di bawah pohon karsen atau ceri (biasa disebut) beberapa hari ang lalu. Tepat pukul 09.30 saya berjalan membawa helm bergegas menuju bawah pohon yang dimaksud. Sudah tergambar di benak bahwa kawan saya itu menunggu dengan cukup aman dan nyaman karena si pohon berfungsi sebagai peneduh alami kala itu. Dan ternyata justru barisan beton yang saya tangkap sejauh saya memandang setelah belokan perempatan. Tidak ada lagi trotoar atau semak. Apalagi pohon ceri sebagai tempat yang disepakati berfungsi sebagai titik temu.

Kemudian kawan saya itu bilang "Salah ya kita patokannya pohon. Karena yang namanya pembangungan selalu memakan alam sebagai korban, terutama tumbuhan". Saya mengangguk nyengir sambil mencatat di catatan ini.

Di lain waktu, musang besar yang tertangkap pada malam itu ditemukan tewas di pagi harinya ketika bapak penjaga kebun membuka ikatan dalam karung. Entah sebabnya apa yang mengakibatkan si musang menghembuskan nafasnya yang terakhir tanpa ada yang mengetahui. Ternyata kematian datang bersama sepi diwaktu senyap malam harinya. Si bapak mengaku sudah membuat lubang agar si musang bisa bernapas. Ternyata yang luput dari perhatian adalah si bapak mengikat karung berisi musang tepat di
bawah pohon mangga. Dugaan sementara adalah musang yang tertangkap akhirnya tewas karena kehabisan napas lantaran kurang oksigen dan sulit begerak. Apakah lantas bisa dikatakan bahwa pohon mangga adalah pembunuh?

Ini adalah pentingnya peran manusia sebagai makhluk yang dipercaya sebagai pemimpin dari seluruh makhluk di bumi. Karunia Allah kepada Nabi Adam a.s berupa akal untuk memperoleh pengetahuan adalah agar interaksi antar-makhluk bersinergi dengan baik.

Kedua kasus di atas adalah gambaran bagaimana terjadinya kontak fisik perlakuan dari manusia kepada alam. Seolah alam tercipta untuk manusia. Bagi muslim mestinya sudah paham
bahwa

Al hasyr: "apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah, dan Dialah Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana."

Al hadiid: "Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana."

As shoff: "apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi bertasbih kepada Allah, dan Dialah Yang Maha Perkasa
Maha Bijaksana."

At Tagaabun: "apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi senantiasa bertasbih kepada Allah; milik-Nya semua kerajaan dan bagi-Nya (pula) segala
puji; dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."

Semesta bertasbih.

Sabtu, 25 Juli 2015

Surga. Kado. Terminal.

Surga Yang Tak Dirindukan


Sudahkah anda menyaksikan film ini? Kemarin saya berkesempatan untuk menyaksikan film ini secara gratis. Alhamdulillah..

Jika belum, izinkan saya mengulas poin - poin yang saya catat dari hasil menonton film ini.
Kisah ini dari sudut pandang perempuan. Penggambaran rasa sakitnya begitu terenyuh. Maka tidak heran jika perempuan yang menyaksikan akan menitikkan air matanya. Perempuan sederhana yang begitu menghayati kehidupan rumah tangganya mesti menghadapi situasi yang menantang ia untuk berikhlas berpasrah dan percaya kepada suaminya yang memiliki hati baik dan ingin merengkuh segala kesusahan orang lain dengan kedua tangannya sendiri namun dengan pengambilan keputusan yang tidak bijaksana kala itu. Atas nama pertolongan, maka sang suami menikahi secara mendadak dan tiba - tiba perempuan yang asing demi menyelamatkan nasib bayi yang nyaris saja bernasib sama dengan dirinya. Ia merasa begitu dekat dengan si bayi melalui ikatan bayangan masa lalu. Disamping perihal menyelamatkan bayi, sang suami ini juga bermaksud mengenalkan ibu dari si bayi tentang Allah. Jadilah, ia menjadi seorang imam untuk makmum yang baru. Ia menjadi seperti jembatan perantara pengenalan seorang perempuan yang terrundung hatinya sekian lama dengan Allah. Mulanya satu, keinginan besar si pemeran utama laki - laki sebagai penolong bagi yang lemah.

Hikmah pelajaran yang baru mampu saya tangkap adalah, hal baik mesti dilakukan dengan cara yang baik. Kalau caranya salah, bisa jadi ada pelanggaran kesepakatan yang terlanggar hingga menyisakan rasa sakit bagi pihak yang bersepakat. Hal baik yang dihiasi kebohongan apalagi lebih dari satu kali (karena memang itu konsekuensi dari menyembunyikan aroma busuk), akan menimbulkan rasa ketergantungan untuk berbohong dan keruwetan yang menyambar ke hal - hal lainnya. Dalam film Rayya pernah dikatakan bahwa berbohong itu ada seninya dan ilmu serta latihannya. Dan Buya Hamka pernah menyatakan syarat - syarat sebelum melakukan kebohongan: mesti seseorang yang berani, kreatif mengarang, dan tidak pelupa. Jika tidak pintar, konsekuensinya adalah rasa malu dan masalah yang datang justru berkali lipatnya. Apalagi berbohong untuk keselamatan fana diri sendiri. Toh rasa malu nantinya akan tetap datang karena tak ada kebohongan yang tak terungkap. Tinggal perkara Sang Waktu saja kapan akan membuka terpalnya dan keturunan berapa yang mesti menanggung konsekuensi dari rasa malu tersebut.

Dalam film ini rasa sakit yang tergambarkan seolah sangat jelas sebagai konsekuensi tindakan spontan bermaksud baik. Meskipun sebenarnya rasa sakit bisa jadi adalah cara Allah untuk menaikkan derajat keimanan seorang manusia agar dari insan menjadi mukhlisin. Agar juga manusia begitu dekat dengannya dalam khusyuk berwudhu hingga bersujud dalam shalat. Sujud yang dalam seperti mengadu ke haribaan Ibu.

Beberapa pasangan yang sedang dirundung kasmaran sering berjanji untuk selalu ada. Padahal sering lupa, tangan pertolongan terbaik bukan dari tangan kita, melainkan dari tangan Allah. Jadi bukan dengan menjanjikan bahwa diri akan selalu ada tanpa 'in syaa Allah', karena tameng terbaik adalah pembekalan diri, bukan niat atau usaha orang lain untuk selalu ada untuk orang2 yang disayangi. Bagaimanpun inginnya untuk selalu mendampingi.

Bagaimanapun rasa sayang ibu kepadamu, jasadi ibu tidak akan pernah selalu ada didekatmu sepanjang hayat misal ketika kau di metromini, kereta, jalan sepi, bersakit lelah dirundung su'udhon, atau kala merasakan pengkhianatan. Tapi ibu hadir dalam ingatan akan pesannya bahwa bawalah Allah kemanapun hati pikiran dan perbuatanmu melangkah. Kala bahaya, tangguhlah dalam membela harga dan kemuliaan diri, berbuat adillah, yang terpenting: berdzikirlah.

Ihsan. Jika diri selalu ingat bahwa Al Khaliq ada dimana - mana, maka tiada yang lain selain-Nya. Syahadatnya diulang. Diperbaharui lewat sujud - sujud dalam shalat.

Seorang perempuan yang kuyu hidupnya karena sekian lama su'udhon dan tanpa cahaya mengenal-Nya, begitu tersentuh ketika mendapat sedikit cahaya dari seorang laki - laki baik penolongnya, bisa jadi akan ia rengkuh erat bagaikan berhala baru. Hingga ia bisa tahu dan paham satu hal bahwa rasa kehilangan hanya ada jika kita merasa memiliki. Karena padahal, semua hal hanyalah titipan dari-Nya. Jadi, manakah yang kekal?

Akhir dari cerita cukup baik bahwa ujungnya adalah perihal perolehan dan latihan untuk ikhlas dan pengendalian rasa cinta selain kepada-Nya.

Senin, 20 Juli 2015

Ephemera

Hanya jika waktu bersedia membeku untukku, akan kukatakan dengan pelan, jelas, dan halus hal yang selama ini terbalut diam atau senyum simpul yang sebenarnya ingin sekali disampaikan kepada Anda. Semacam mantra harapan dan pengungkapan.

Namun bagaimana? Aku seperti semacam malu sekaligus ragu setiap kali menyusun rangkaian kata untuk mewakili apa yang dipikirkan. Maka, susunan keberanian yang kucicil tidak jarang akan roboh dan ambruk sebelum selesai terbangun. Aku memang nyaris selalu terlambat. Termasuk dalam pengungkapan.

Padahal...

nyatakan atau tahan perkataan.

Mestinya memang dua pilihan itu saja. Maka, sesungguhnya waktu yang tak mungkin membeku (apalagi hanya untuk dan karenaku) hanya akan terwujud lewat: doa.

Segala harapan, ungkapan perasaan, dan segala untaian kritik akan pertama sekali kucurahkan di atas bukaan kedua telapak tangan. Kepada-Mu.

Indah yang singkat. Jangka waktunya tergantung aku, (atas izin-Nya).

Kamis, 09 Juli 2015

Angin untuk Bara







Jangan pernah anggap sesuatu kosong seperti wadah ketika orang dari menara gading turun ke tanah. Boleh jadi telah ada peluh usaha dan guratan antusiasme serta ide namun tidak pernah menemukan jaring sebelumnya. Lao Tse pernah berkata:

Berjalan bersama rakyat.
Belajar dari mereka.
Hidup bersama mereka.
Mencintai mereka.
Mulai dengan apa yang mereka tahu.
Bangun dari apa yang mereka punya.
Namun pemimpin terbaik adalah ketika kerja selesai, saat tugas terlaksana, rakyatnya berkata
kamilah yang mengerjakan semuanya.





Antusiasme kaum ibu menyambut baik pelatihan hidroponik yang diselenggarakan Semai DD dan Variabel Bebas serta SPKP pada siang itu. Peserta yang terdiri dari remaja masjid dan majelis taklim tidak membuat perbedaan semangat yang berarti meskipun memang ada hitungan yang lumayan pada rentang usia. Semangatnya sama terdengar dari pekik tagline yang dikodifikasikan oleh pewara.

Hari itu peserta mendapatkan beberapa catatan yaitu mengenai perubahan iklim yang terjadi dan bagaiman urban farming memainkan peranan untuk menyambutnya secara baik. Perubahan iklim yang terjadi merupakan suatu tantangan terutama untuk masyarakat pesisir yang sungguh kaya potensi alamnya karena berkah yang luar biasa dari laut. Saya percaya segala hal berpilin dalam keseimbangan. Rahmat yang luar biasa dari hasil laut berbanding lurus dengan kesensitifitasan akan perubahan yang terjadi padanya. Maka, ketika alam mulai berbicara dengan bahasa yang tidak semua manusia menangkap maknanya, kawasan pesisir dipaksa untuk mampu membaca kode yang dikirim alam mengenai perubahan dan kemudian menyiapkan sebaik mungkin sebagai bentuk reaksi atas komunikasi tersebut. Kerjasama yang baik antara komunikan dengan mitranya ini saya sebut sebagai harmoni.

Proses pembacaan kode tersebut mulai dapat diterjemahkan secara baik oleh penduduk pulau pramuka dan kaum muda pulau panggang. Seiring dengan terdekapnya pengetahuan dan pemahaman, maka ada kewajiban lain yaitu bereaksi atas pengetahuan tersebut entah berupa aksi sekecil apapun di mata manusia lainnya. Maka, setelah mendapatkan beberapa lembar informasi dari Ibu Mahariah mengenai potensi urban farming di kawasan pesisir, peserta diajak untuk praktik membuat cairan nutrisi dan membuat pot hidroponik dengan sistem yang paling sederhana yaitu sistem sumbu atau wick

Keteduhan hutan pulau pramuka menaungi aktivitas pelatihan membawa maksud tersendiri bahwa ternyata bersama alam, kita mendapatkan keteduhan karena dedaunan dan kanopi menyediakan diri mereka untuk menjadi payung untuk manusia manusia yang beraktivitas di bawahnya. Akar pohon membuat biopori yang berfungsi sebagai resapan alami yang kemudian menjadi cadangan air ketika musim kemarau tiba dan penadah ketika hujan turun. Hidroponik sangat erat kaitannya dengan air diambil dari kata hydro yang artinya cairan. Maka, konsep urban farming hidroponik ini menggunakan air sebagai bahan baku utama yaitu sebagai pupuk. Sebuah pulau sebenarnya sangat bisa untuk tidak pernah kekurangan air. Cahaya matahari yang melimpah bak kompor yang senantiasa takkan pernah padam bagi dapur stomata. Air laut menjalani proses pencahayaan terus menerus dari matahari sehingga upanya naik untuk kemudian bisa turun menjadi hujan. Maka, hidroponik di kawasan pesisir cukup potensial keberadaan dan kelanggengannya asalkan mampu memanfaatkan potensi yang ada dan melimpah di sekitarnya.

Peserta dibawa untuk ke suatu titilk pengetahuan bahwa ternyata tantangan hidroponik di kawasan pesisir adalah air baku. Karena berdasarkan temuan dari hasil praktik menggunakan TDS (Total Dissolve Solid) & EC (Electricity Conductivity) meter, sumur dan air tanah dari beragam lokasi rumah warga adalah berbeda beda kadar ppm (part per million) nya. Dapat disimpulkan bahwa air sumur tidak direkomendasikan untuk menjadi bahan baku pencampuran untuk cairan nutrisi. Dan kemudian ditemukan bahwa bahan baku yang baik adalah dari hasil tadah hujan, tadah AC, atau air hasil penyulingan. Dengan ini, peserta akhrinya mau untuk memulai melakukan water harvesting meskipun dengan konsep yang paling sederhana sekalipun.

Pelatihan kemudian diakhiri dengan kepulangan masing masing peserta dengan satu wadah hidroponik sistem wick dengan beberapa bibit kangkung sebagai stok percobaan.

Perempuan dan kelantangan.
Tak perlu kajian mendalam terkait feminisme untuk menemukan formula tercanggih atas posisi perempuan di mata penghuni muka bumi. Laut sebagai ibu dari bumi tampaknya mengakar dan kemudian tercermin betul dari kepribadian kaum perempuan (terutama  Ibu) di pulau pramuka. To the point, ayom, tegas, berpadu juga dengan kelembutan khas ibu.

Menyambangi dua ketua RT yang semuanya adalah seorang wanita dan ibu rumah tangga. Jika di tempat saya tinggal biasanya kaum permpuan tidak memainkan perannya nyaris sama sekali dalam pengambilan keputusan warga atau rembuk bersama, maka di sini punya cerita lain. Pogram Fumah Hijau diinisiasi oleh satu keluarga namun koordinasi pusat berada di tangan para ibu.

Sebagai madrasah pertama sekaligus guru perawat di keluarga, ibu rumah tangga memiliki semangat yang membara untuk merealisasikan program rumah hijau di rumah mereka. Hasil diskusi dan evaluasi adalah sebagian sudah mulai memulai program rumah hijau yang melesakkan poin pembuatan Lubang Resapan Biopori, pemilahan dan penabungan sampah anorganik, panen air hujan, dan pekarangan yang produktif sebagai budaya. Gerakan budaya dari akar rumput sangat bergantung dari keistiqomahan atau kekonsistenan pelakunya dalam berfokus. Maka, variabel bebas dalam hal ini sama sekali bukan kompor apalagi bara bagi hidupnya gerakan budaya "harmoni mendengar-didengar" ini, variabel bebas adalah angin yang coba untuk menjaga nyala semangat masyarakat pulau pramuka.

/kit/

Selasa, 25 November 2014

Pendidik Merengkuh CintaNya

dokumentasi /kit


Jika hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini Presiden sebuah Negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa saja menjadi dewasa
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.
-Usman Awang 1979

 
Siapa yang kita sebut sebagai guru? Ia yang kita sudah kenali sejak kecil memberikan pekerjaan pekerjaan rumah untuk dikerjakan, esok ketika ada yang tidak mengerjakan, siap – siap lah menerima hukuman. Guru adalah sosok yang juga menjelaskan banyak hal menarik sejak kecil, menanamkan nilai – nilai kebaikan entah membantu teman atau mempertahankan kejujuran. Guru memiliki banyak warna , dan macam – macam rupanya. Ada yang teduh, ada yang riang penuh canda, ada yang gelap murung dan tegas, ada yang tak pernah tersenyum kecuali saat pengambilan rapot saja. Itu semua adalah sebuah identitas yang disematkan untuk orang – orang yang berdiri di depan kelas memegang kapur atau spidol atau buku absen dan peluit (jika olahraga). Mereka adalah guru. Selalu di depan kelas, akan berjalan ke belakang kelas sesekali hanya jika sedang ulangan.

Beranjak besar, pemahaman sosok guru kian berubah, ia bisa hadir dari bermacam – macam rupa dan bentuk. Ia adalah juga seorang nenek keriput tua dengan senyum gigi ompong terindah yang mengajarkan untuk terus berbuat baik dan ingat pada Allah, ia sudah tiada dapat ditemui di bumi, kecuali dalam hati. Guru juga adalah seorang ibu rumah tangga penjaja buku perpustakaan keliling. Guru juga adalah seorang nelayan yang teguh menanamkan ajaran mencintai, berkomunikasi, berkawan dengan alam pada anaknya, hal yang belum bisa didapatkan di sekolah formal. Guru juga adalah ibu atau bapakmu ketika ia diam dan marah untuk kau yang pulang terlambat, terlalu larut, atau lupa membalas pesan singkat. Teman yang menangis di hadapanmu karena ketakutan telah membantu memalsukan tandatangan juga kemudian menjelma menjadi guru. Jika definisi guru adalah pendidik nilai – nilai kebaikan dalam kehidupan, maka setiap makhluk berpotensi untuk menjadi guru. Rasulullah juga disebut sebagai Muallimul awwal fil islam, tanpa pernah ada satupun lembaga kenegaraan yang menyematkan identitas tersebut pada beliau. Sesungguhnya identitas sebagai pendidik sungguh semestinya berjalan apa adanya, alami, tanpa di reka – reka apalagi sertifikasi dan lainnya. 

Yang akan saya ceritakan dalam kisah yang satu ini adalah guru yang memiliki legitimasi identitas untuk menyandang predikat sebagai guru sekolah. Guru sekolah tentu berbeda dengan guru kehidupan. Untuk menjadi guru sekolah, seseorang harus memiliki dan melalui persyaratan – persyaratan tertentu. Sesuai dengan peraturan yang digulirkan pemerintah. 

Dukacita kerap menyelimuti profesi guru ketika media mengabarkan beragam hal fakta buruk yang terjadi. Hal ini tentu akan mempengaruhi citra seorang guru di mata masyarakat. Karena sudah kita ketahui bahwa media berperan besar sebagai jendela informasi yang dipercaya sangat amat akurat untuk diserap dan merupakan dominasi dari kebenaran. Mulianya profesi keguruan tergerus dengan sangat hebat terutama ketika masa – masa Ujian Nasional hendak diselenggarakan. Kecurangan yang berlangsung secara sistemik dan melibatkan banyak lini dalam system pendidikan kita tentu saja membuat guru sebagai sosok pertama yang akan disorot dan diinterogasi pertanyaan masyarakat.

Berdasarkan sajak Usman Awang di atas, guru adalah pusat kemuliaan dan kebermanfaatan bermula. Sajak tersebut menyampaikan betapa kegiatan mendidik seorang guru adalah awal pembuka dan penentu masuknya ilmu ke dalam orang - orang dengan beragam profesi lainnya yang disebutkan di atas saat kanak - kanak. Pada 1979 kira – kira Indonesia memang sedang mempersiapkan seluruh anak negeri untuk mampu mengenal tanda baca latin. Istilah pemberantasan buta huruf semestinya tidak digunakan pada zaman repelita tersebut. Karena meskipun tidak berkenalan dengan huruf latin, sesungguhnya masyarkat lama telah mengenal huruf arab melayu.

Dalam perkembangan dunia pendidikan modern di Indonesia, jika dikaitkan dengan sajak di atas sosok guru kekinian justru mengeluh jika ada satu orang muridnya yang berbeda dari anak – anak seusianya, belum mau dan mampu membaca atau berhitung dengan lancar. Segala gagasan tentang mulianya profesi guru tergerus bahkan terlupakan oleh para praktisinya. Setiap kemuliaan kemudian dianggap sudah semestinya mendapatkan peng’harga’an. Harga yang benar – benar diartikan  secara literal berupa naiknya gaji guru ditambah tunjangan – tunjangan yang menggiurkan bagi guru PNS. Sehingga pendidik memang menjadi profesi incaran namun orientasinya menjadi terbelokkan dari yang banyak orang harapkan: materi dan kesejahteraan, bukannya kemuliaan karena pahala dan cinta terhadap ilmu. Baru – baru ini saya temui pembicaraan yang pertama dibuka untuk lowongan posisi sebagai guru adalah mengenai fasilitas hak dan kenyamanan. Pembicaraan mengenai pembekalan dan kondisi perpustakaan serta laboratorium justru ada di akhir, bahkan hampir tak dibahas jika ak saya tanyakan. Sebuah potret dimana kondisi guru kita belum menyatu erat dengan belahan jiwanya: ilmu (dalam hal ini direpresentasikan oleh perpustakaan dan kultur akademik). Suatu fakta yang siapa saja layak untuk merenungi kembali untuk kemudian mengheningkan cipta.

Seiring dengan kesadaran para pembelajar pendidikan untuk kembali pada hakikat dan mulai berfilosofi tentang sistem penyelenggaraan pendidikan yang kini tengah berjalan, muncul suatu gagasan untuk kembali mengenal dan menerapkan pesan Ki Hajar Dewantara. Salah satunya yang berkaitan dengan eksistensi guru adalah tentang trisentra pendidikan. 

Yang disebut dengan trisentra pendidikan adalah:  keluarga, masyarakat, dan sekolah.

Ketiganya adalah unsur yang mesti berkolaborasi tanpa sekat dalam membangunkan negeri dari tidur panjangnya. Membawa obor pendidikan demi kemuliaan hakiki untuk menerangi peradaban Indonesia. Melalui pesantren, melalui sekolah alternatif, melalui pendidikan berbasis keluarga, kemunculan dan kebangkitan trisentra pendidikanlah yang kemudian setiap pembelajar dapat mengembangkan makna guru, ilmu pengetahuan, ruang kelas, dan sekolah dengan lebih luas daripada persepektif sempit yang kini berlaku.
Guru tetaplah ia, mereka, dan bisa jadi anda selama ia mau dan mampu membagi harta warisan paling berharga yang manusia miliki sebagai bekal:  pendidikan, ilmu, dan pengetahuan kepada pihak lain dengan segenap hati dan cintanya.

Sebuah anak – anak komunitas blogger UNJ membuat perjanjian di antara mereka untuk menghargai dan membalas budi baikmu lewat tulisan kecil sederhana. Aku masuk dalam komunitas tersebut. Berikut pesan dariku untukmu, guru.

Untuk setiap guru kehidupan, aku ingin menyapamu dengan manis dan santun. Haturkan rasa terimakasih yang dalam karena akan menjadi insan yang seperti apa aku kelak, akan berada di barisan yang mana aku di masa depan nanti, itu semua tergantung dari pendidikan yang kuterima sejak ditiupkan ruh dalam rahim dan berjanji untuk beribadah pada-Nya.

Selasa, 07 Oktober 2014

icing

Bahan:
Tepung gula 250gr (sesuka hati)
Susu bubuk dancow (dua sachet)
Putih telur (dua)
Pewarna (3 tetes)

Alat:
Mixer
Blender
Sendok
Baskom
Penggiling (bisa pake apa saja asal silindernya stabil dr dasar ke atas, saya menggunakan botol sirup marjan dan nampan)



Icing adalah bahan dasar untuk dekorasi kue - kue. Kue kering maupun kue tart.

Penasaran banget sama icing ini setelah lihat Handi's Cake. Hebat banget pemuda dari cianjur yang lebih dikenal sebagai master dekorasi kue Australia ini. Icing ala Handi tidak seperti icing yang dikenal sebelum - sebelumnya. Yaitu mirip whip cream tapi lebih kental.

Icing gaya Handi ini mirip seperti lilin mainan anak - anak.

Begini cerita ketika saya mencobanya.

Kocok dua putih telur dengan mixer level 1. Terus mix hingga berbusa putih kemudian mengembang. Hentikan sesuai feeling (asal ya).
Kemudian tuang tepung gula sesuai selera. Gunakan feeling seberapa hingga menjadi manis. Saya sendiri menggunakan 250gr tepung gula. Jika anda kehabisan stok tepung gula seperti yang saya alami, tak usah panik. Ambil stok gula pasir dan masukkan ke dalam blender. Blend tanpa air sama sekali dan untuk waktu yang sebentar saja. Cukup hingga gula berubah menjadi tepung (terlihat jelas di luar).

Tuang gula secara bertahap sambil diaduk, gunakan sendok juga boleh.

Untuk mengakali aroma adonan yang amis, tambahkan susu dancow bubuk kira2 dua sachet.

Selesai! :)
Bentuk dan mainkan sesuka hati hehe

Simpan sisanya di wadah tertutup ya, jangan di lemari es agar tidak mengeras.

Selamat mencoba

Jumat, 03 Oktober 2014

perhiasan



Seseorang hanya mencari pembenaran atas apa yang dia lakukan meskipun mungkin jauh di lubuk hatinya dia tahu bahwa itu salah. Kecuali ada yang salah pada hatinya sehingga gagal membedakan mana yang baik, mana yang buruk.

Kaget sekali mendengar pernyataan masih ada saja orang - orang yang berkata dengan tegas bahwa dia yakin sudah tidak ada lagi cewe di zaman sekarang yang masih terjaga (perawan-red).

Sungguh, perempuan mana saja yang berada dalam jarak dengar saat itu pasti akan tidak setuju, kesal, marah atau bahkan menangis karena si penutur telah mengeneralisasi keburukan yang dialami/dimiliki/dipelihara beberapa orang.

Pada zaman sebelum islam hadir di Makkah, penduduk Makkah memang memiliki kebiasaan - kebiasaan buruk yang kemudian disebut sebagai kebodohan, salah satunya adalah berzina. Macam - macam bentuk zina ini. Yang disebut tukar guling atau piala bergilir pun ada. Kelompok mana sebetulnya yang out-of-date? Lalu apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w ketika dakwah islam? Zina dilarang. Mendekatinya saja juga tidak boleh. Karena dampak dari perzinahan sungguh
serius dan masif. Ini perkara akhlak generasi. Serius dan besar tapi sengaja dibuat sepele.

Bisa kita lihat ketika membaca menghapal nama penulis buku atau ilmuwan - ilmuwan islam, pasti agak menyulitkan. Karena dalam setiap nama, mesti mencantumkan asal usul nasab serta lingkungan
keluarga. Nasab. Itu juga yang penting.

Ketika bayi hasil zina terlahir, maka bayi tersebut tidak akan mendapat sematan "bin" dari ayah biologisnya. Karena proses menempelnya al alq pada rahim terjadi sebelum arsy-Nya bergetar menyaksikan janji yang diucapkan seorang pemuda untuk menjaga menafkahi membimbing mendidik dan menanggungjawabi seorang perempuan.

Tidak ada proses persetujuan seluruh keluarga dari kedua belah pihak ketika hal itu terjadi. Maka, wajar bila orangtua yang menghadapi kenyataan bahwa putrinya tidak lagi terjaga akan merasa gagal,
menangis, takut menanggung dosanya, bahkan malu. Campur aduk.

Az Zukhruf yang ternoda kemudian tidak bisa melakukan apa - apa. Perempuan itu cuma bisa
mengharap pertanggungjawaban. Dia bingung harus menyalahkan siapa atas kelakuannya sendiri. Demi pembenaran atas apa yang telah terjadi, maka ia akan berkata seperti yang tertera di atas.

Roda perekonomian yang membuat seorang perempuan dengan sertifikat persekolahan pas-pasan memutuskan untuk mencari nafkah. Perhiasan yang seharusnya terjaga justru keluar menjadi salah satu tulang di punggung sebelum mendapat perbekalan diri yang cukup (baligh atau dewasa dan matang pikirannya).

Maka atas nama modernisasi, si perhiasan ini mesti bergabung pada kelompok sosial yang mengklaim diri mereka adalah yang mendominasi dan akan senantiasa abadi pemikiran dan eksistensinya.

Demi meredam kepusingan akan fakta ini, sungguh adem mengingat betapa teduhnya melihat perempuan-perempuan yang menjaga penampilan dan konsisten menghargai dirinya sendiri sebagai perhiasan.

Jilbab lebih dari sekedar taat. Ia juga adalah bentuk dari penghargaan seorang perempuan terhadap dirinya sendiri -kutipan dari seorang pembantu rumah tangga yang berjilbab

Sadar betapa Allah ingin menjagamu, perempuan? :)