Sabtu, 03 Mei 2014

Tambal


Pernahkah terbesit pertanyaan mengapa ada yang namanya polisi tidur? Awalnya, polisi tidur ada karena pengendara motor dan mobil kerap tak mengurangi kecepatannya dalam berkendara meskipun  berada di kawasan gang warga. Maka, tergagaslah dibuatnya polisi tidur. Jika kita perhatikan lagi, awal mula permasalahannya adalah pengendara yang membahayakan warga di gang karena tidak mengurangi kecepatan dan kurang berhati – hati. Kalau begitu, mengapa tidak diatasi dengan penyuluhan kepada para pengendara agar tidak memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi? Atau pembenahan yang sangat selektif dibawah pengawasan yang berwenang tanpa kongkalikong sama sekali ketika pembuatan Surat Izin Mengemudi?

Sepertinya kita terbiasa atau bahkan kecanduan dengan cara – cara instan, yang ketika suatu barang rusak, lebih baik membeli barang lainnya yang serupa. Tanpa upaya memperbaikinya. Itulah yang terjadi pada kebijakan – kebijakan pemerintah. Ketika mendeteksi permasalahan, solusinya adalah pembuatan program yang baru. Tanpa ada upaya evaluasi atau bahkan memperbaiki program yang lalu yang masih berjalan hingga kini. Maka, tidak heran jika muncul istilah ganti pemerintahan, ganti kebijakan. Berapa banyak dari kita yang benar – benar mendengar generasi tua? Yang kembali menilik dan belajar dari sejarah?

Soal tambal sulam menjadi pijakan utama saya ketika memandangi program – program dari pemerintah soal pendidikn. Pertama, UN (Ujian Nasional). Sejak pertama kemunculannya, sudah diperdengarkan suara – suara kritis yang meminta pemerintah untuk mencabutnya. Segelintir dari dosen – dosen, guru, dan pengamat pendidikan melakukan protes, analisis, surat terbuka, nasehat, bahkan mengajukan perkaranya ke Mahkamah Agung sejak tahun 2003. Namun sampai tahun ini Ujian Nasional tetap dilaksanakan. Sedangkan kita lebih sering tetap berputar – putar dengan menganalisis hal – hal teknis semata dimana itu berarti secara tidak langsung menyatakan diri setuju dengan keberadaan kebijakan, hanya saja teknisnya yang bermasalah. Tidak setuju dengan keberadaan dan perannya, dengan mendukungnya melalui permohonan pembenahan teknis jelas dua hal yang berbeda bukan?

Ujian Nasional kemudian menjelma menjadi tujuan persekolahan. Sayangnya, kita terlanjur menelan bulat – bulat bahwa persekolahan adalah juga pendidikan. Murid – murid sekolah yang duduk manis di bangku ketika semester akhir pastilah lebih hapal apa yang akan keluar atau menjadi kisi  - kisi dari ujian nasional ketimbang tujuan dari proses pendidikan yang terukir indah di Sisdiknas: memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Ukiran Targetan – targetan yang mulia itu kemudian ternodai dengan laporan – laporan segala tindak tanduk kecurangan yang terjadi dalam tubuh Ujian Nasional. Meski tidak masuk perkara dan booming di televisi, kecurangan Ujian Nasional adalah sebuah fakta yang bersuara hanya dalam tiap hati nurani yang pernah menjalaninya.

Lebih dari satu dasawarsa, artinya sudah lebih dari sepuluh generasi yang terbentuk pola pikirnya bahwa dalam belajar ada kategori lulus dan tidak lulus. Dalam menempuh pendidikan ada yang namanya peringkat 1,2,3 dan seterusnya. Dalam mengenyam dan menuntut ilmu bertindak menodai nurani untuk berlaku jujur tidaklah apa – apa asal berramai – ramai. Akhirnya, institusi pendidikan pemerintah justru mengantarkan anak didiknya untul gagal dalam pengaplikasian dan mengamalkan apa yang telah dilalui selama 12 tahun lamanya.

Kurikulum 2013 yang mulai 'menghantui' lewat wacana sejak akhir 2012 juga tidak kalah heboh menghentak kerepotan persekolahan. Selama guru masih menganggap sebuah kurikulum sebagai kitab suci (kaku dan tidak bisa diotak/ik atau diimprovisasi sama sekali), maka pergantian kurikulum berapa kalipun, akan tetap blunder. Triliunan yang habis demi kebijakan baru ini kemudian dinilai sebagai proyek karena jelas sekali terlihat karbitan. Mengapa kita tidak memberikan penyuluhan saja dan pelatihan guru - guru hingga pelosok demi menyukseskan reformasi pendidikan di ruang - ruang kelas kita? Jika memang Kurtilas adalah penyempurnaan dari KTSP, mengapa mengganti nama? Mengapa harus ada benda baru yang muncul diantara masalah kita? 

“Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada suatu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka.” itu kata M. Natsir.

Ketika ramai - ramai diberitakan di media bahwa guru - guru kita kurang kualitasnya, maka pemerintah menelurkan kebijakan sertifikasi dan PPG. Sebuah kebijakan baru demi memperbaiki kualitas guru - guru. Seperti adanya polisi tidur tadi, mengapa kita tidak membenahi pusat asal muasalnya calon guru? sebut saja LPTK. Ruang - ruang kelas kita sunyi dan kering karena terjadi pemisahan pemaknaan antara buku dengan sastra. Guru lebih suka anak - anaknya jago memecahkan soal daripada tepekur diam lama menyusun puisi dalam benaknya. Kebijakan yang baru saja muncul di salah satu LPTK di Jakarta adalah kewajiban mengambil mata kuliah prosa. Tidak sedikit teman - teman calon guru yang protes dan mengaku tak menyukainya karena merasa berbeda, 'saya bukan anak sastra'.

LPTK kita perlu pembenahan bukan saja dari kurikulumnya, melainkan juga dari tradisi akademik, hingga jalan berpikir. Kita bergaug di jejaring sosial media merayakan hari pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 mei. Namun, seberapakah dekat LPTK dengan sosok yang pada tahun meninggalnya turun Kepres untuk menjadikan hari lahirnya sebagai hari pendidikan nasional? Pernahkah di ruang - ruang tempat calon pendidik, penata peradaban bangsa mengulas pemikiran dan prinsipnya lebih mendalam?

Yang perlu dibangun kemudian adalah pemahaman kembali pentingnya pendidikan bagi bangunnya sebuah bangsa, seperti yang dikatakan M. Natsir diatas. Sehingga kaum yang katanya terpelajar (terutama di kawasan LPTK) mampu mendeteksi adanya kriminalisasi pendidikan dan secara penuh berkesadaran untuk menjadi pendidik - pendidik amatir (yang bergerak dengan cinta) bukan karena profesi dan mengejar sertifikat semata.

Ketika kaum yang katanya terpelajar tidak menyadari betapa mulia jalan masa depan mereka, pun gagal membaca kriminalisasi pendidikan yang ada, bahkan menolak untuk menjadi amatir demi profesionalitas, maka, pendidikan Indonesia harus bertahan beberapa massa lagi demi terhapusnya hegemoni rezim ijazah.
-> mari membaca sejarah

Senin, 31 Maret 2014

bosan gerak

mereka bergerak, hanya ketika ada yang familiar.
kami menengadah pada kreativitas, tapi dia membuang muka.
suatu saat, aku bergumul pada kebingungan.
karena aku bingung apa yang kubingungkan.
Padahal, itulah pertanda kekosongan.

dia berteriak "Mandiri!"
entah dia guru yang baik atau mentor yang keji
mungkin minus kacamataku yang bertambah
jadi aku melihat semuanya seperti buram

menjadi warna yang berbeda dalam trotoar,
aku seperti harus bertahan dalam ketulian.
kenapa harus ada prasangka sebelum mengenal?
ah ya, karena tak ada kepercayaan diantara kita

aku jadi sepertimu, berteriak pada kreativitas
"Kamu dimana?!"
dalam gerakan ini terdeteksi adanya bosan
tapi yang mendeteksi sebagian cuma diam
atau malas, jadi menyelipkan temuannya,

dia malas, engkau malas, aku juga jadi malas
padahal, kreativitas menengadahkan tangannya sambil berteriak pada media
tapi aku, kamu, dan dia cuma menengok dan bilang "Oh!"
kenapa kita masih jalan di tempat kalau begitu?

karena kreativitas kita lihat cuma mengais puing - puing tradisi peninggalan tetua kita, yang anti perubahan barang secuil,
secuil saja, mendapat tatapan sinis, dibilang gak logis karena gak pragmatis.
aku, kamu, dan dia. Kita sama - sama berparasangka pada media.

Idealisme Gie Sunyi






Ada beberapa hal yang saya tangkap setelah menonton film Soe Hok Gie. Salah satunya adalah kesepiannya sebelum mati. Ketika ia tertawa di pagar rumah Ira setelah ditolak ibunya Ira, ia justru tertawa. Tawa yang menyadarkannya bahwa ia sudah kesepian. Gie yang seorang bersuara lantang, kritis, rajin membaca keadaan dan hatinya selalu berkiblat pada rakyat. Titik awal yang membuatnya terjatuh adalah ketika ia justru sibuk dengan pacarnya. Seperti ketika saya menyaksikan fil Soekarno. Buang - buang waktu saja.

Ia seharusnya senantiasa meraptkan diri pada teman- temannya agar pemikirannya terjaga. Bukan hanya suara lantangnya yang kemudian menggaungkan nasib kekosongan seperti ketika ia akan mati. Ia mungkin masih bisa bersama teman - temannya untuk menjalankan aktivitas cita - citanya: kita nonton film dan naik gunung aja, tapi sekali - sekali, kita hantam kesewenangan pemerintah!

baiklah, yang saya lakukan nayatanya hanyalah merutuki apa yang di cover oleh sutradara film. Tidak lebih. Pelajaran menarik yang dapat dipetik adalah, film ini puitis. Saya harus menundukkan kepala demi lebih seksama menangkap apa yang dibunyikan pada tiap - tiap kosakata puisi. Lebih mengena. Imaji saya lebih berwarna daripada yang dapat dinikmati secara visual dari layar.

Gie mencintai sastra. Saya hanya menyukai sepertinya. Gie mahasiswa sastra. Saya  juga. Gie adalah pengamat yang tak ingin tercebur ke dunia politik kotor. Saya cenderung mengadopsi sedikit sifat - sifatnya yang ini.

Sungguh yang terasa kini adalah perbedaan yang mencolok, antara aktivis kampus jaman Gie, dengan aktivis kampus masa kini. Saya sendiri juga jadi malu, tak banyak yang saya baca. Saya juga tak pernah ingin terjun aksi. Bahwa kita harus berpihak pada yang lemah, melindungi kaum lemah dari kesewenang - wenangan, itu sangat benar. Bahwa burung bisa merenggut kebebasan karena belajar terbang, itu nyata.

Tapi ada lagi, menyampaikan kebenaran itu baik. Namun cara juga penting. Maka, untuk hal yang satu ini, Islam mengaturnya dengan pelajaran adab.

Saya menonton Gie, saya dapat membaca bukunya, saya mahasiswa seperti Gie, saya menyukai sastra seperti dia juga. Tapi yang ada kini adalah berbeda. Saya bisa meniru beberapa keteladanan darinya, termasuk dalam berpikir.
#terbawa

Kamis, 02 Januari 2014

kotak pandora

  1. Niat dan realita
Pada awal kemunculannya, televisi dimaksudkan untuk menyapa masyarakat Indonesia secara langsung. Lewat satu – satunya lembaga penyiaran publik:TVRI, Soeharto kemudian meluncurkan satelit palapa. Itulah pertama kali televisi merambah sektor publik. Dalam perkembangannya kemudian, banyak pihak yang berlomba – lomba membuat lembaga penyiaran swasta. Semula untuk memberikan informasi jarak jauh, kemudian kini menjelma menjadi katalog bagi produsen menanamkan mental konsumtif pada masyarakat.

Setiap hari masyarakat dibombardir olah iklan dari produsen yang menjajakan barang dagangannya. Jika semula kita meyakini bahwa produsen lah yang membutuhkan konsumen, hal itu dapat dibalik, konsumenlah yang butuh produsen. Kebutuhan akan membeli barang tersebut adalah usaha menanamkan mental konsumtif, sehingga nantinya lewat familiarisasi, terjadilah interpelasi. Dimana produk sudah seperti menjadi identitas bagi konsumen itu sendiri. Dirinya seakan bukanlah seperti apa yang ia definisikan jika tanpa produk itu. Kesuksesan produsen dalam menarik konsumen tentu saja tidak terlepas dari pencitraan. Pendefinisian ulang lewat repetisi, jadi seperti doktrinasi. Contohnya adalah produk kecantikan. Seorang perempuan tidak akan dianggap sebagai seorang yang cantik bila tanpa pemutih. Ini juga berlaku untuk berbagai macam kategori seperti pintar, cantik, modern, kaya, terpandang, popular, bahkan baik.

Konsep yang terus menerus ditanamkan adalah konsep menurut produsen, tanpa kita sadari, Budaya pop juga mempengaruhi apa yang dipaparkan televisi, Sehingga sesuatu akan dianggap sukses atau sesuai dengan standar ketika sama dengan yang lainnya. Tanpa sadar, pemirsa dijebak dalam uniformitas.
Darimana dapat dilihat suatu paham atau budaya buatan sukses di pasaran? Ketika dilihat, pasar mulai menggunakannya, bahkan ketergantungan atasnya. Gangnam style, Boy band, girl band, krim pemutih, operasi wajah, ketika semua berbondong – bondong melakukannya, itulah artinya kesuksesan bagi pengusaha.

Hal ini senada dengan tim kreatif suatu program acara televisi. Tidak peduli apa yang disebabkan oleh acara yang mereka suguhkan pada publik, atas nama entertaining, pengejaran target demi mencapai rating tertinggi adalah sah – sah saja. Kita sudah menilik sebelumnya bahwa rating mempengaruhi pendapatan program dan stasiun televisi karena kebutuhan produsen untuk mengiklankan produknya. Sebenarnya antisipasi untuk bombardir iklan sudah ada lewat remote control, tapi yang terjadi justru pendidikan moral atau karakter seakan sia - sia. Contoh: ketika rasa kemanusiaan kita dikuras oleh suatu program televisi mengenai kesulitas saudara kita yang jauh di pelosok, tapi kemudian setelahnya, 15 menit kita sudah dipaparkan secara terus menerus kemewahan sebuah hotel atau gadget keren. remote control gagal menjadi tameng untuk menahan hawa konsumtif heavy viewers. Meluruhlah pendidikan karakter lewat televisi.

Kita sudah pernah mendapati siswa SD yang meninggal dunia akibat meniru tayangansmackdown. Seperti biasa, suatu kebijakan atau fenomena baru disadari sebagai suatu kesalahan ketika sudah memakan korban. Anak diyakini merupakan periode yang memiliki kelemahan dalam filterisasi. Maka, akibat pemaparan dari media televisi yang menggebu, yang dapat dilakukan anak sebagai pelampiasan adalah imitate (meniru) apa yang ia saksikan. Karena pada akhirnya, tayangan yang pantas untuk anak - anal bukanlah sekedar kartun atau tidaknya, tetapi lebih ke konten dan isi program itu sendiri. Disebutkan oleh Rasyid bahwa dari survey yang dilakukan di Jepang, program anak - anak seperti Sailor Moon dll, justru memberikan contoh pada anak - anak untuk bersikap anto sosial seperti tokoh2 di dalamnya.

Kecanggihan media

Kemirisan terjadi ketika masyarakat yang daya analisis literasi krtisinya kurang. Dapat kita tebak bahwa masyarakat yang daya analisis kritis terhadap literasinya kurang adalah masyarakat golongan menengah kebawah. Terbukti, dibandingkan menginvestasikan uang untuk belanja buku, masayarakat lebih memilih untuk membelikan televise. Tidak heran jika kita kerap menilai masyarakt kita belum siap menghadapi globaslisai karena terjadi ketimpangan dalam mendefinisikan globalisasi itu sendiri. Mengartikannya jadi sempit, maka pemuda desa berlomba mengikuti gaya kota yang hedonis dan materialistic, karena itulah yang dipaparkan televisi. Fenomena dimana pecandu berat penonton televisi (heavy viewer)  mengalami kesulitan dalam membedakan mana yang nyata dan yang buatan disebut sebagai kultivasi (George Gerbner).

Kehadiran televisi yang pada mulanya adalah solusi untuk merangkul penduduk dari Sabang hingga Merauke justru meluruhkan niatan itu sendiri. Terbukti, sebagao media komunikasi, televisi sebenarnya sama saja dengan banner. Satu arah. Monolog. Bukan komunikasi anatara dya pihak. Yang terjadi adalah kepalsuan, penonton yang pasif menyimak dan mendengarkan, seolah hal yang ada di televisi adalah kenyataan dan benar - benar menyapa secara langsung. Hal ini sebenarnya berbahaya, karena penonton tak lagi dapat membedakan mana yang palsu dan mana yang benar - benar terjadi. Keberpihakan media juga mempengaruhi terhadap apa yang didapat atau diterima (disajikan) kepada penonton. Dalam situs Kompasiana disebutkan bahwa perbedaan humas dengan jurnalis adalah, humas: berkata baik atau diam, jurnalis: berkata benar walau pahit. Yang terjadi kini adalah media masa diragukan tingkat independensinya. Sangat terasa, apalagi menjelang tahun politik ini. Sebagai receiver, penonton terbiasa terima jadi tanpa mengetahui proses pembuatan beritanya.

Dalam analisis wacana menurut Eriyanto, jurnalis bisa saja membentuk atau mengkonstruk berita yang disajikan dengan dua hal: membatasi pandangan receiver atau menyajikan opini - opini. Sehingga bukan penilaian secara menyeluruh yang akan dilakukan receiver, melainkan pilihan untuk memilih pandangan yang disajikan atau melihat pandangan yang sudah dipilah?

Dikonstruksi pasar
Saya seringkali berpikir, jika kita mendapatkan tontonan gratis semacam ini, darimana kemudian pengusaha media mendapatkan keuntungan ya? Barulah saya sadari ketika suatu acara televisi menyebut – nyebut istilah rating yang kemudian saya ketahui sebagai data minat penonton terhadap suatu program televise.
Dari suatu program televise yang sedang tinggi ratingnya, perusahaan produsen kemudian berlomba – lomba untuk menaruh iklannya dalam acara tersebut. Data yang diperoleh pada tahun 2012 cukup mencengangkan, belanja kotor iklan media di Indonesia mencapai 87,471 triliun rupiah, dan 11.172 juta spots/hari untuk televisi. Maka, dari iklan produk – produklah stasiun televise mendapatkan keuntungan. Pasar yang menggirukan inilah yang membuat pengusaha media berlomba – lomba menaikkan rating untuk mengeruk keuntungan. Darimana kemudian tim kreatif suatu program acara televise mengkonsepkan acara – acara yang akan dikemas untuk ditampilkan di depan public? Dunia perbisnisan bergantung pada pasar. Kita sudah paham soal ini, dimana dalam mencari keuntungan, pasarlah yang berkuasa.

‘ibu asuh’ dalam pendidikan
Penelitan di Amerika menunjukan bahwa menonton televise pada bayi proses wiring , dimana penyambungan di antara sel – sel saraf dalam otak tidak semourna. Anak – anak belum mendapatkan pengalaman empiris, sehingga konsentrasi anak terganggu akibat virtualisasi yang meloncat – loncat (rasyid, 2013:183).
Kesibukan masyarakat modern yang seringkali membiarkan anak menonton televisi tanpa pengawasan sebenarnya adalah hal yang menkhawatirkan untuk kesehatan anak itu sendiri. Televisi sudah mampu menggantikan peran seorang ibu sebagai madrasah pertama, pendidik perdana. Kecanggihannya dalam membombardir selama 24 jam terjaga nonstoplah sifat unggulya.

Hal yang baru saya ketahui adalah pembagian jadwal penayangan program televisi. prime time (18.00-21.30) menjadi waktu yang sangat diburu produsen untuk menaruh spot iklan mereka. Itu pula waktu diana keluarga Indonesia kerap menghabiskan waktu bersama untuk menonton. Untuk tayangan golongan kode D, dapat ditayangkan mulai pukul22.00-03.00, yang saya baru ketahui pula, iklan rokok harusnya juga ditayangkan mulai pukul 21.30 keatas. Di luar negeri, seleksi program tv sangat ketat dilaksanakan. Untuk setiap kekerasan (verbal non verbal) sudah memiliki aturannya tersendiri, masyaraktnya juga sudah sadar apa dampak yang ditimbulkan oleh kotak hitam tersebut.
Indonesia sebenarnya memiliki KPI sebagai wadah resmi pengawalan program sehat. Namun, masih sangat kurang dan memprihatinkan kesadaran masyarkat dalam literasi media. Televisi sendiri memiliki pengaruh positif bagi pendidikan yaitu memicu anak untuk merasa ingin tahu lebih. Tetapi, hal itu juga memiliki konsekuensi mematikan kreativitas anak untuk eksplorasi langsung dan mendapatkan pengalaman empiris karena apa yang dipaparkan di televisi seolah adalah nyata,


Solusi
Dari serangan kotak Pandora yang merajalela, karena tampaknya sudah membudaya, dapat ditanggulangi atau dicegah bahayanya dengan beberapa poin berikut ini
  1. Lakukan penyeleksian secara ketat tontonan apa yang akan dilihat keluarga anda (terutama yang masih kecil)
  2. Sediakan DVD edukatif selalu sebagai cadangan ketika tidak ditemukan acara yang baik
  3. Lakukan pengaduan ke lembaga KPI untuk konten acara yang meresahkan
  4. Terus lakukan pendampingan dan bimbingan kepada penonton yang masih dibawah umur/kecil
  5. Matikan tivi anda, ganti dengan membaca buku – buku.

Karena kemunculan televisi termasuk diawali dari sebuah mimpi untuk dapat melihat jendela dunia. Mengapa tidak ganti jendela dunia tersebut dengan buku jika sudah tak mampu memformat dan membentuknya sesuai hati?

pendamping:
Kekerasan di Layar Kaca, Muhammad Riyanto Rasyid, Kompas:2013
Analisis Wacana, Eriyanto

Senin, 30 Desember 2013

populasi kucing

Bulan puasa yang lalu, kami sekeluarga harus memendam rasa kangen yang cukup dalam kepada si cantik yang satu itu, Muezza. Pasalnya, ia sedang dioperasi sekitar pukul satu dinihari. Janin yang ada dalam rahimnya yang seharusnya melengkapi hidupnya walau sebagai single parent, justru berubah menjadi sesuatu yang membahayakan keberadaan ibunya. Muezza harus dipoerasi, kehilangan calon kitty saja sudah cukup membuat kami berkabung, ditambah lagi harus mengahadapi kenyataan bahwa Muezza harus menjalani hidupnya tanpa rahimnya! Sungguh tragis.

Kenapa kejadian ini begitu membuat hati kami terenyuh? Karena ia lah satu – satunya peliharaan yang bertahan dalam rumah kami lebih dari dua bulan (sejak kehilangan kelinci – kelinci lucu saat kami bertiga masih SD dulu, ada yang sakit, ada yang kabur, ada pula yang menurut laporan tetangga, dibawa kabur oleh seekor anjing). Baik, kita lupakan kelinci – kelinci tersebut (terutama yang minggat). Dari awal kehadirannya di rumah, kami tidak tahu bahwa ia sedang hamil. Ia diam – diam saja, tapi memang diakui, manjanya gakketulungan. Konon kata beberapa situs hasil sarching google, memang begitu perilaku kucing hamil. Kami kemudian merawat ia seperti kucing pada umumnya saja, tetap dimandikan, tetap diajak main, dll. Hingga saat ia sakit, dokter bilang bahwa ia hamil. Baru pula kami ketahui bahwa kucing yang sedang mengandung tidak diperbolehkan untuk mandi, bias keguguran.

Singkat cerita, Muezza diam saja seharian, lemas, saya dan kakak kemudian memacu laju kendaraan untuk membawanya ke seorang dokter. Dini hari ketika mendapat sms dari dokter tersebut yang mengabarkan konsisi Muezza sedang kritis, seringkali saya membathin betapa malang nasibnya sebagai perempuan. Harus kehilangan anak sekaligus rahimnya. Tapi bila dikilas balik, mendapatkan Muezza kembali sehat saja sudah syukur Alhamdulillah. Karena untuk melewati masa kritis pasca operasi, harapan dan kekuatan hanaya ada di tangan ALLAH dan Muezza sendiri.

Jadilah, ketika ia kembali sehat, kami menyambutnya dengan spesial. Mendekati dan memeperlakukan ia dengan lembut dan sayang. Hingga ketika kami hendak membawa ia ke salon yang sesekali kami pilih sebagai tempat mandinya, seorang ibu berkacamata dan ramah menyambut kami. Pertama kali saya berkunjung ke pet shop tersebut dengan membawa Muezza.

Pet shop tersebut cukup strategis letaknya, yakni di sebelah supermarket besar dan dipinggir jalan raya. Begitu membuka pintu, aroma makanan kucing menyeruak melesak kedalam hidung. Lantai yang putih dan bersih serta suhu AC yang cukup sejuk membuat pengunjung betah untuk berkunjung kesana.

“kamu pasti seneng deh Mi. Kucingnya kampung semua tapi bersih – bersih”, kata kakakku memberitahu.
Memang benar, ada sekitar tujuh hingga sepuluh kucing disana. Semuanya bermata lembut (atau ngantuk?). Semuanya jenis kucing lokal, tapi memang gemuk dan bersih – bersih. Tidak ada satupun yang agresif ketika disentuh atau diajak main. Jinak sekali. Begitu mengobrol dengan ibu ramah berkacamata, baru kami ketahui bahwa kucing tersebut memang mereka pelihara. Rajin dimandikan dan diberi makanan. Ditengah perbincangan, saya penasaran mengintip satu persatu jenis kelamin kucing – kucing tersebut. Hasil dari pengaamatan sederhana saya: variatif.
Jika kucing sebanyak ini hampir sepanjang hari (kecuali waktu makan dan mandi) berada di dalam toko, apakah tidak pernah terjadi kerepotan saat ada yang dalam masa birahi? Mengingat variasi jenis kelamin kucing – kucing tersebut. Dan, jika sedang ada yang bertengkar, apakah tidak khawatir merepotkan pengunjung? Kemudian, mengapa kucing – kucing itu tampak jinak nyaris selalu? Karena didapati mereka semua tiduran di sofa, di kolong meja, tertidur, memandang malas, atau sekedar diam memandang.

Jawabannya adalah, kucing – kucing tersebut rupanya sudah dinetralkan semua. Apa itu dinetralkan? Jika jantan, ia dikebiri, jika betina, ia diangkat rahimnya. Ctar! Jika discroll keatas, terbayang khan bagaimana sedihnya kami mengahadapi fakta bahwa Muezza akan mandul selamanya? Ia bukan hanya janda, tapi akan terus menjadi lone ranger. Fitrahnya sebagai seorang perempuan terrenggut. Ia takkan bias menjadi seorang induk yang membesarkan dan menyusui anak – anaknya. Satu kaleng kecil makanan kitty (kitten) masih kami simpan hingga kini. Tapi Ctar tadi hanya saya simpan dalam hati, saya balut dengan anggukan dan senyuman pertanda siap mendengar cerita lebih banyak. Karena saya penasaran latar belakang dari penetralan itu.

Kucing – kucing tersebut sudah dinetralkan, lalu kenapa jumlahnya banyak? Rupanya, ia dan suaminya seringkali menemukan kucing di jalan, maka mereka pungut untuk mereka rawat jika terluka. Dan tak jarang ada saja manusia tega yang membuang anak kucing di depan pet shop mereka. Penetralan dimaksudnkan untuk menekan jumlah populasi kucing (sementara di Jakarta Bekasi). Berawal dari rasa iba melihat kondisi kucing yang porak poranda tampilannya, entah karena sakit atau habis jadi power ranger. Dan pemandangan kucing – kucing diakui merusak keindahan kota. Daripada banyak sekali kucing jalanan yang terlantar atau terkena penyakit ganas, maka, populasi kucing mesti ditekan. Dengan salah satu jalan: netralisasi.

Mungkin ini terdengar mirip dengan program pemerintah untuk menekan jumlah penduduk Indonesia. Tapi saya belum benar – benar yakin 100 persen, apakah gerakan netralisasi kucing jalanan ini adalah jalan keluar yang baik? Atau justru sebenarnya, adalah petaka?

Ibu itu memandang dan memuji Muezza, kami beritahu kronologi operasi Muezza. Kami juga memberitahunya bahwa pitak dibagian perut dan lengan Muezza adalah karena operasi pengangkatan Rahim. Responnya adalah

“Oh sudah dinetralkan? Bagus kalau begitu.” Ia tersenyum senang.
Saya dan kakak berpandangan lewat lirikan singkat, kemudian mengalihkan pembicaraan seraya tersenyum.

kekuatan pijakan bag. 1



Yang paling familiar, atau terasa akrab dalam benak saya dari sekian judul yang berdialog dengan saya adalah tentang surat 'Abasa. Surat dimana terdapat didalamnya teguran atas kesalahan, ajakan untuk bertafakkur, tadzakkur, takut akan kiamat, serta ciri orang yang mendapat hidayah.
Ketika seorang tuna netra, Abdullah ibn Ummi Maktum menghampiri Nabi yang kala itu sedang semangat berdakwah dihadapan petinggi Quraisy. Nabi membuat kesalahan dengan lebih mementingkan para petinggi Quraisy. Allah secara langsung menegur sang nabi secara tersirat (sindiran) lewat firman-Nya, "wa huwwa yakhsya" (sesungguhnya, ia seorang yang takut kepada Allah swt).

Teguran. Dikutip dari suatu literatur bahwa seseorang yang memberikan berlian kepada saudaranya dengan cara dilempar, orang tersebut hanya akan merasakan sakitnya saja, ia tak tahu bahwa yang dilempar adalah batu berlian, atau bahwa berlian adalah benda yang bernilai sangat tinggi. Dari ilustrasi berlian diatas didapati bahwa cara menegur adalah penting untuk diperhatikan. Kita bisa memetik pelajaran dari surat Abasa diatas. Bahwa Allah menegur Nabi nya yang ketika itu berbuat khilaf lewat deskripsi bahwa yang datang pada Nabi saat itu adalah seseorang yang takut kepada Allah. Teguran yang berupa desripsi itu tepat pada porsinya, tidak akan merendahkan yang ditegur secara terlalu hingga merasa malu, atau tidak juga kurang hingga yang ditegur tidak merasa.

Maka, suatu waktu, setelah mengetahui pentingnya perkara tegur menegur ini, kita bisa lebih berpikir lebih panjang, lebih jernih dan bijak sebelum meluruskan sesuatu.

Poin kedua yang ingin saya bahas adalah niat.
Terkadang terbersit keraguan, apakah yang saya lakukan ini adalah niat karena Allah atau karena makhluknya?
Menjenguk orang sakit misalnya, hanya karena tidak enak pada teman. Atau berbuat begini begitu, tergantung dan sangat terpengaruh pada apa yang nanti makhluk-Nya pikirkan. Ada sebuah kisah tentang kedelai, seorang bapak, dan anaknya. Cerita ilustrasi ini sudah seringkali dikisahkan. Hikmah yang dapat dipetik dari ilustrasi ini adalah, jangan ingin untuk sempurna dimata setiap orang, karena itu berarti kita menginginkan sesuatu yang mustahil kita capai. Ketika menolong orang lain, kita melakukannya karena apa? apakah karena mengharap ridho Allah atau agar terlihat 'tampan optimal' atau 'cantik maksimal' di mata makhluk-Nya?

Ternyata, ketika mempercayai bahwa jika kita menolong saudara kita, Allah pun akan menolong kita, itu termasuk beriman padaNya. Karena kita percaya pada firmanNya, dan hadist dari nabi-Nya.
Maka, setiap berbuat sesuatu, kita perlu mengecek terus niatan kita. Bukan hanya di awal, tetapi juga "ketika" dan "setelah" proses kegiatan atau rasa yang sedang berjalan dalam diri kita. Memang sulit, tetapi, untuk mendapatkan gadis pujaan terbaik, memang tidak mudah, khan? seperti kata seorang alim: tidak ada mahar yang mahal untuk gadis yang akan dipinang. hehe

poin ketiga, Allah's love is everywhere.
Saya sangat suka memenggal lirik lagu Maher Zain ft Irfan Makki- I believe

when you searching for the light,
and you see no hope in sight,
be sure and have no doubt,
He is always close to you

He is the one who knows you best
He's always in you heart
you'll find your peace at last,
if you just have faith in Him.. Allah..

Ketika futur menyapa, itu berarti kita pernah ada di posisi atas biang lala. hehe
Yang saya maksud adalah, ketika futur datang, itu berarti, kita pernah menjadi hamba yang dekat dengan-Nya.
Alhamdulillah~
Mungkin anda pernah merasakan, ketika sudah dekat dengan kedhaliman, atau kebathilan, atau kekhilafan, tiba - tiba saja ada hal yang membatalkan kita untuk melakukannya, atau mendekatinya. Itulah, cinta Allah ada dimana - mana. Kita terhindar dari sifat lalai, abai, keji, atau sifat buruk lainnya. Allah menyelamatkan kita dari kesalahan dan kekahalan iman.

ketika kita lupa padaNya, cemburukah Ia? pasti. Tapi, merasakah kita? jarang. Tidak jarang, hati jauh merasakan kesejukan yang sangat menentramkan hanya ketika sedang mendapat teguran dariNya, kemudian kita tenggelam larut sujud mengadu padaNya hingga sedu sedan didengar sendiri dalam jiwa. Suatu kejadian yang menguras pikiran, mengaburkan logika dan kejernihan qalbu, merasa diri terpuruk tak ada tempat bersandar lagi. Percayalah sahabat, Allah sebaik - baik tempat kembali.

hadist Qusi:
"Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya selama ia mengingat-Ku, dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingat-Nya di dalam diri-Ku, jika ia menyebut-Ku di hadapan manusia, maka Aku pun akan menyebutnya dihadapan makhluk yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepada-Nya sejauh satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sepanjang satu depa, jika ia mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya dengan berlali- lari kecil. (HR Bukhari-Muslim)

"maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?" (QS. Ar Rahman)

sob, yakinlah bahwa Allah mencintaimu.
Jauh lebih dalam dari hujan pada angin yang menjadikannya tiada,,

#np depapepe-counts love

Aulia, Muhammad Lili Nur, 2011, Allah, Kokohkan Kaki Kami di atas Jalan-Mu, Jakarta: Tarbawi Press

Senin, 20 Mei 2013

Pencarian... tatapan awal yang salah




JBF. Jakarta Book Fair 2012. Sambil menunggu teman – teman lain memburu buku masing – masing, aku berusaha terus mencari sebuah novel fiksi. Gawat, aku lupa penerbitnya. Googling sebentar, barulah kemudian aku menemukan penerbit dari novel incaran. Serambi mizan penerbitnya, Rahasia Meedejudulnya, E.S Ito pengarangnya, 2008 tahun terbitnya. Mas – mas di Mizan bilang, jika buku sudah tidak ada di peredaran, akan dikembalikan ke percetakan. Maka aku tanya dimana percetakan Mizan. “Jagakarsa” katanya. Mengapa aku sampai segitunya berusaha mendapatkan novel itu? Begini ceritanya..
Awalnya saya bingung, kenapa judul novel ini adalah Rahasia Meede? Memang, di dalam buku ini menggunakan sedikit percakapan dan istilah – istilah Belanda. Barulah di 2/3 dari halaman buku, saya menemukan alasannya. Meede adalah nama putri dari Sr Erberveld. Dan Erberveld adalah keturunan dari salah satu anggota Monsterverbond. Suatu kelompok yang memegang kunci dimana letak harta karun VOC berada.
Yang membuat novel ini menarik adalah, novel ini memuat unsur – unsur yang tidak dimuat pada novel lain pada umumnya. Politik, sejarah, budaya dan hukum negeri kita tercinta, Indonesia. Semuanya dikemas dalam cerita yang menarik dan gagasan – gagasan cerdas. Pernah membaca komik Death Note? Menonton City Hunter? Seperti itulah kira - kira. Kejar – kejaran antara seorang dari organisasi intel profesional Sandi Yudha yang bernama Rudi, dengan seorang yang di cap sebagai buronan kejahatan politik, Attar Malaka.
Kamu tau apa lagi yang menarik? Seluruhnya di balut sastra, sajak potongan Chairil Anwar dan Tan Malaka. Novel ini menggambarkan dua orang sahabat yang saling memburu, mempertahankan ideology dan pemahaman masing – masing. Mereka sama – sama mencintai sastra, cinta Indonesia, namun bergerak dalam jalan masing – masing. Satu tokoh penting adalah seorang dengan nama sandi Melati Putih, ia sebagai eksekutor andal yang menumpas orang – orang kebal hukum (jadi seperti Lee Min Ho di City Hunter).
Pemburuan pemuda – pemuda mentawai yang bertato pada era Soeharto, kekecewaan mendalam terhadap eksekusi Tan Malaka, retaknya hubungan dwitunggal Hatta dan Soekarno, perburuan sahabat terbaik sekaligus musuh terhebat di pelosok Banda, hingga terpecahnya misteri kebangkrutan VOC dan emas – emas negeri yang direnggut Monsterverbond dari VOC. Rasanya, seluruh aspek dikemas oleh E,S Ito dalam novel ini. Komik secerdas dan selugas Death Note, Conan, City Hunter ditampilkan dalam novel ini. Rahasia Meede adalah novel pintar yang beraroma nuasantara. Salah satu bacaan yang menarik bagi kamu yang kritis akan perpolitikan Indonesia, penikmat sejarah dan pencinta sastra. Nusantara sangat. Puitis. Kritis. Nasionalis. Dan mengharukan.. J

#Kisah 2 pemuda yang merepresentasikan kecintaan pada negeri dengan cara berbeda, hingga akhirnya mereka tersadar, masa depan negeri kaya nan melarat ini ada di tangan generasi berikutnya!! Competition is not the way out, Cooperation is the most important.

btw, nama sandi salah satu tokoh utama disini adalah Attar Malaka. Saya dapet hal menarik dari Meraba Indonesia dan biografi Mohammad Hatta
Tan Malaka : nama aslinya Ibrahim, Malaka adalah nama gelar yang diberikan oleh penduduk Payakumbuh (desanya)
Mohammad Athar (Bung Hatta) : sejak kecil mendapat nama panggilan Atta