Kamis, 25 Agustus 2016

Belajar lagi



Ini  bukan contekan. Bukan suatu barang yang bisa dibagi untuk kemudian menyelamatkan status dan muka di hadapan teman-teman dan guru. Ini merupakan sikap dan sikap tidak akan pernah terlahir dari ketakutan dalam memutuskan.

Ini bukan tentang gengsi atau status kita di mata orang lain. Ini merupakan laku alami yang muncul dan lahir dari buah pikiran mana yang kau anggap baik untuk dilakukan. Kita itu muridan, yang berkehendak. Dan kehendak itu bukan timbul setelah dipecut, melainkan tergagas dari inisiatif diri. 

Jika ada sejumput rasa takut membuat kesalahan, mungkin itu merupakan kesalahan tradisi mendidik leluhur bangsa ini yang selalu yakin bahwa anak adalah cangkir atau kertas kosong. Melompong. Kopong. Dan kita jadi terbiasa dimaki ketika berbuat salah ketimbang dipuji ketika melakukan kebaikan atau kebenaran. Bukan, sama sekali bukan untuk pencapaian derajat tawadhu, melainkan karena sudah ada asumsi kurang baik sejak pertemuan pertama dalam nuansa belajar.


Kawan, ini sama sekali bukan tentang muka dan status kita. Ini tentang identitas dan watak mendasar kita sebagai muridan. Kita hanya lupa, kita hanya perlu mengingatnya bahwa setiap dari kita, untuk naik takhta hingga mencapai tingkat khalifah, kita tidak boleh terlepas dari semangat untuk belajar. Tidak boleh.

Termasuk, belajar menghadapi sosok diri.

Sabtu, 23 Juli 2016

tatap muka



"Zaman sekarang, orang-orang jarang saling bertatap muka, dan kalau mereka tidak saling bertatap muka, mereka tidak akan bertumbuh. Saya mesti langsung datang dan menunjukkan pada Anda bahwa saya terbuat dari darah dan daging."

Itu kurang lebih kutipan Paulo Coelho dalam sebuah bukunya. Menjelaskan pada pembaca bahwa bertemu muka dengan orang-orang yang memiliki maksud untuk mencapai tujuan adalah sebuah keharusan. Mewakili keseriusan dalam mencapai tujuan tersebut. Mungkin terkesan agak memaksa mengingat orang yang menyampaikan tujuannya barangkali memiliki keterbatasan-keterbatasan dalam bertatap muka. Namun, bukannya Tuhan memiliki sejuta keajaiban-keajaiban untuk mendobrak keterbatasan-keterbatasan tersebut, tergantung dari usaha dan tekad orang-orang yang berniat?

Pada masa dimana teknologi menyita peran kita hampir setiap saat. Ketimbang berkata-kata lewat suara sambil menatap mata lawan bicara, kita lebih banyak menghabiskan waktu dengan menatap layar gadget dan menggunakan media sosial. Sebuah sulap sihir yang mengubah pola komunikasi langsung kita. Memangkas penghargaan terhadap intonasi atau pemaknaan terhadap gesture.


Ada rezeki tersendiri dari tatap muka.
ada hal kecil tapi penting yang terkonfirmasi.
tawa, senyum, dan kesalnya bukan emotikon belaka.
asli, apa adanya, tanpa rencana.

Minggu, 03 April 2016

Seblak Ceker Ayam Connecting People

Long time ago, kalau bikin seblak, saya pakai kemiri biar ada kesan lengket dan juicynya. Tapi kali ini karena bermain ceker ayam, rasanya gak perlu pakai kemiri karena ceker ayam sendiri sudah akan mengeluarkan zat kolagennya ketika diolah di atas wajan. Ini adalah seblak ceker ayam yang menurut saya masih kurang dari target rasa yang ada di benak saya, yaitu kesan empuk, meresap, dan pedas asam asin manis yang pas. Hehe

Well then, postingan ini tentang hal-hal yang tadi saya siapkan dan kerjakan. Durasi totalnya ternyata enam jam karena membersihkan kulitnya lama banget.

Alhamdulillah dari mas sayurnya sudah dibersihkan kuku cekernya terlebih dahulu. Karena saya enggak tegaan kalau harus memotong-motong bagian tubuh hewan yang masih kentara bentuknya. Maaf ya, ayam ...

Sedikit cerita, ketika membersihkan kulit ceker ayam di air hangat kuku, saya beberapa kali merasa seperti memahami betapa dalam makna dari iklan Nokia: Connecting People yang diikonkan dengan adegan genggaman tangan. Berarti 35 kali saya bergenggaman dengan ceker ayam (saya betul-betul menghitung jumlah ceker ayamnya ternyata) dan merasa betul bahwa genggaman tangan itu menghangatkan dan membuat perasaan jadi lebih bonding satu sama lain (jan ... iki opo toooh).

Kebanyakan bengong saat memasak ya resikonya begini ini. Ckck

Berikut alat, bahan, dan stepnya. Selamat mencoba untuk Anda yang sempat mampir (biasanya pengunjung blog saya accidently mampir hehehe). Nuhun.

Seblak Ceker Ayam
alat:
1. lumpang+alu
2. sodet kayu
3. kuali
4. talenan
5. pisau
6. lampin


bahan:
1. ceker ayam
2. daun bawang (1 batang)
3. lada (satu sendok makan)
4. bawang putih (3 besar)
5. bawang merah (8 sedang)
6. cabai merah (5)
7. kencur (2 ukuran ibu jari)
8. cabai rawit (5)
9. tomat (1)
10. saus (1 sdm)
11. penyedap (1/4 bungkus)
12  gula pasir (1 sdt)


step terlama yaitu ketika mempersiapkan ceker ayamnya.

Pertama, cuci sambil hilangkan kulit luar yang berwarna kekuning-kuningan mirip sisik. Gunakan pisau sebagai bantuan. Jika masih sulit, coba rendam air panas, tunggu beberapa lama, baru coba untuk membersihkan kulitnya lagi.

Kedua, rebus ceker ayam bersama air garam (1 sdm garam+air secukupnya) dalam panci besar. Tunggu sampai empuk. Ciri-ciri empuk versi saya adalah ketika daging dan kulit ceker bagian pangkal sudah ada yang mengelupas atau mau lepas atau urat-uratnya yang terlihat, tampak menghitam. Ketiga, tiriskan.


Langkah kerja:
1. haluskan semua bumbu dapur yang disebutkan di atas dengan lada sebagai yang pertama dihaluskan dan tomat yang terakhir dihaluskan. Alasannya, karena sebagai biji-bijian, lada butuh space yang luas untuk dihaluskan. Dan tomat begitu mudah dihaluskan kecuali kulitnya.
2. iris daun bawang. potong dadu.
3. panaskan 1-2 sdm minyak goreng.
4. tumis bumbu dalam api kecil-sedang. Aduk terus kecepatan stagnan agar bumbu tidak lengket di wajan dan matang secara adil dan merata (apadah ...)
5. begitu ada indikasi harum dan kematangan bumbu (yaitu terjadi perubahan warna dan tekstur yang semula lembut menjadi agak menggumpal kecil-kecil alias ngegank), tambahkan saus, garam, gula, dan penyedap. Aduk lagi.
6. tambahkan sedikit air (1/2-1 gelas)
7. ketika mendidih, cicipi kuahnya. Tambahkan bumbu yang dirasa kurang sesuai selera.
8. masukkan ceker ayam. aduk. Biarkan mendidih dan meresap kurleb 3 menit.
9. matikan api.
10. taburkan daun bawang. Aduk.


Ambil sejumput kuah dalam sendok lalu tanyakan pada kakakmu, adikmu, Ibu, bapak, tetanggamu, atau kucing di rumahmu: "Kurang apa gitu, enggak?"

sekian.
/kit

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhLLzQI17Q7h_vPOpK6UXjE7kzEemCCScgwiwMd7lbdZDX3zMcbVYlJyMybnqAh8GYOtxtB-FByO_oF59gtp7-TezT6UtZ5J99K9BK4RbhmFXg_6ka-J6vH4006lLY8CIyi5KHBwJAha3k/s640/20160403_182106.jpg


Minggu, 06 Maret 2016

Pernah





Padanya, aku pernah mendapati sesuatu yang dalam, yang mungkin telah banyak membaca sekitar. Tempat yang hanya sesekali aku berani untuk mencuri dengar, mengintip sibakkannya walau samar, sekejap. Yang dapat terlihat dengan mudah apakah sedang terundang tawanya atau terpancing kesedihannya untuk pertanyaan-pertanyaan yang barangkali urung ia temukan jawabannya, tanpa perlu aku melihat guratan pada bibir atau lekuk alisnya. Ini juga adalah sesuatu yang tiada dari Abdullah bin Ummi Maktum, namun jika boleh kutaksir, cerminnya tidak pernah khianat, tetap indah bahkan boleh jadi lebih gemilang oleh karena syukurnya atas nikmat yang lebih besar yang tersembunyi dibalik tiada dapat dinikmatinya salah satu inderanya itu.


Tidak, aku pun belum mengerti betul apa sebab ketika suatu kali temanku berkata bahwa ia tak pernah sanggup melihat sorot orang lain untuk waktu yang lama. Sehingga aku tersadar bahwa ada Yang Maha dari apa yang sedang kumahakan dalam benak. Itu sepertinya adalah sebab mengapa Angku Haji menikmati waktu berjam-jam di tepi dipan untuk mengenangkan mendiang istrinya dengan menafakuri ayat-ayat suci. 


Tempat yang paling indah? Ya, pernah kudapati dalam suatu masa, sorot dalam matanya.

Senin, 29 Februari 2016

(spasi) Titik Tiga Kali







Ada suatu strategi yang mungkin aneh. Tapi saya menyebutnya seperti bermain layang-layang. Tarik ulur.

Tidak mengizinkan untuk tumpah ruah karena mengharap tumpah ruahnya bisa dicicil hingga awet untuk dapat selalu diingat dalam doa. Hal yang mungkin akan saya ingat selama tiga bulan di sana adalah perbaikan tata bahasa tulis. Titik tiga kali. Berbulan-bulan sebelumnya memang tanda baca ini menempati ruang penasaran yang khusus di kepala.

Ia adalah suatu tanda khusus yang melambangkan intonasi bagi seseorang. Sebuah poin penting yang membuat bahasa tulis menjelma menjadi seolah-olah bahasa lisan ketika dibaca. Sebagaimana diketahui bahwa intonasi kemudian merepresentasikan manner atau cara dan maksud pesan yang disampaikan.

Sebaliknya, transkriptor yang mengubah bahasa lisan menjadi bahasa tulisan memaknai titik tiga kali bukan sebagai intonasi. Titik tiga kali dalam kesepakatan bersama yang kemudian dipatenkan menjadi standar yang mesti diikuti bersama, adalah sebuah tanda jeda yang bukan koma. Jeda yang mewakili pengulangan berpikir ketika kata terucap atau kadung terserimpet. Titik tiga penting adanya. Karena diam sejenak bukannya tanpa makna.

The best hello is farewell. Agar ketika berpisah, emosi yang tumpah dalam kadar yang wajar jadi terjaga kestabilannya untuk kedepannya. Bukan karena tak berarti apa-apa. Justru sikap tersebut bisa jadi merupakan perwujudan benteng dari anti melankolis yang hanya muncul pada diri orang melankolis namun tidak berani.

"Don't it always seems to go, that you don't know what you've got till it's gone."

Saudara-saudara baru yang memberikan pengalaman-pengalaman baru. Bukan tanpa alasan Allah mempertemukan insan-insan di muka bumi yang sempat menjadi pemisah bertahun-tahun bagi Nabi Adam a.s dan Hawa dalam pencarian yang sama. Sebagaimana pertemuan, perpisahan pun sama dengan jodoh. Bukan tanpa makna, bukan minus hikmah, setiap memori dan pembelajaran bermanfaat yang terbetik pasti akan dapat didapat hikmahnya. Kenangan terbaik adalah pembelajaran. Bukan yang kita minta, Allah swt memberikan apa yang kita butuhkan. Karena aku telah sempat bertemu denganmu (jamak), berarti demi berlanjutnya perjalanan kisahku ke depannya memang butuh untuk dimulainya jalinan silaturrahimku denganmu sebelumnya. Itu maksudnya jodoh.

Alhamdulillah. Bubarnya kami bertepatan dengan konsistennya hujan turun, dibubarkannya tempat prostitusi Kalijodo, dan divonis seumur hidupnya Ibu angkat almarhumah Angeline.
(ndak nyambung? ndak apa-apa).


 Rasulullah SAW bersabda; “Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di mana saja ia menemukannya, maka ambillah.” (HR. Tirmidzi) 


/kit

Kamis, 25 Februari 2016

Presipitasi


Tersenyumlah, atau gusar sekalian. 

Hanya ketika hujan turun.
Partikel air yang serentak turun menyapa bumi belahan tertentu memang biasanya memancing emosi-emosi yang kadarnya lebih dari biasa. Rasulullah pun menyapa hujan secara langsung karena hujan adalah ciptaan Allah yang segera menyapa seluruh penghuni bumi begitu ia tercipta. Fresh from the oven.

Segala macam doa yang berpilin naik menyambar rentetan partikel yang senantiasa turun bergandengan. Sebelum hingga akhirnya percik dapat kita rasai di kulit, partikel air menghadapi pintu-pintu rintangan tertentu untuk kemudian dapat ditentukan apakah diterjemahkan menjadi hujan atau akan lainnya. Sebelum partikel-partikel air menerjang turun, perlu adanya kerja sama antara awan, angin, dan atmosfer (suhu permukaan) suatu kawasan agar pada akhirnya kita menyebutnya hujan. Karena jika angin meniupkan awan ke tempat yang memiliki suhu panas, partikel air yang turun seketika akan buyar memecah ke segala arah untuk kemudian naik kembali menjadi uap, dan kita menamainya virga atau hujan yang batal.

Jika ada partikel air yang turun dari awan pun tidak lekas dapat disebut hujan. Kenapa? Karena jika ia turun sendirian, ia pasti dan tidak mungkin sebuah hujan. Hujan adalah partikel air yang akan bersama-sama dengan kawan-kawan lainnya menaati pola tertentu agar tunduk pada keteraturan. Hal yang dapat mengecohkan formasinya mungkin hanya angin. Itu pun hanya sebagai pengecoh arah, bukan pengecoh formasi dan kehadirannya hanya sebagai pelengkap, bukan hal yang pasti selalu ada ketika hujan turun.

Jika mendengar kata hujan, apa lagi yang langsung terpikirkan? Petrichorkah salah satunya?
Harum yang menyerupai aerosol akan dengan segera menyapa indera penciuman semua makhluk. Ia adalah sebuah akibat dari partikel air yang ketika menghujam tanah akan langsung menghasilkan gelembung-gelembung super kecil yang menghentak kemudian melayang ke udara mengikuti arah angin agar tersebar ke segala penjuru. Sesuatu yang membuat kita menyadari turunnya hujan meskipun kita berada jauh dari ruang terbuka. Bau tanah.


El Nino La Nina 
Ingatkah ketika musim panas lalu, hampir setiap berita televisi menyiarkan bahwa seluruh kota besar sedang dilanda krisis air bersih. Jual beli air terjadi dengan harga yang tinggi, masyarakat pegunungan bahkan mesti rela bergilir di setiap pekan untuk mendapatkan pasokan air dari pegunungan, masyarakat kepulauan menghadapi intrusi air laut yang membuat sumur-sumur asin dan tidak memungkinkannya tadah hujan dilakukan untuk menyirami pepohonan, bahkan, menghadapi kenyataan rusaknya membran pada alat Seawater reverse osmosis milik swasta yang menjadi andalan masyarakat dalam mendapatkan air bersih meski dengan membeli seharga tujuh ribu rupiah per galon kecilnya.

Indonesia tandus, tanah merahnya retak, pegunungannya bergilir mendapat air, sawah mesti rela gagal panen dan ikan-ikan mesti rela pula dipetik paksa jika hujan belum juga turun.

Lalu kemudian kita seperti belajar sukarnya air pada musim panas lalu. Musim hujan kali ini meskipun mengakibatkan munculnya genangan di beberapa tempat dan angin badai yang hadir lebih deras dari biasanya, keluhan tidak banyak dilontarkan. Namun, siapkah kita jika nanti roda berputar lagi dan musim panas hadir kembali?

Seiring dengan kecanggihan teknologi dan kemampuan manusia zaman ini yang menobatkan diri sebagai manusia modern untuk belajar cepat, mestinya juga diimbangi dengan kesiapan adaptasi atau masuk pada pola baru dari perubahan-perubahan yang ada.

Berkah
Dalam rangka bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan, populasi kita yang kian bertambah (dan disinyalir menjadi faktor penyebab dari segala problem yang baru-baru ini muncul, katanya) mestinya juga dibarengi dengan usaha memperbaiki dan menabung sumber daya serta energi. Hemat. Musim hujan tiba mestinya rumah-rumah kita telah siap dengan fasilitas sumur resapan atau penampungan di atap untuk dapat memanen air. Perbaikan water table (muka air tanah) juga dapat dilakukan dengan pembuatan Lubang Resapan Biopori sebagai teknologi tepat guna. Sehingga rahmat yang datang, benar-benar dapat kita rasai sebagai berkah yang berkepanjangan. Bukan hanya sesuatu yang kita rasai dan maknai ketika ia turun menyapa.
Bukan jumlah yang menjadi masalah, melainkan kemampuan kita menghadapi dan menyelesaikan problema yang ada dengan kecanggihan dan keunggulan manusia dari pada makhluk lainnya berupa akal. Bagaimana kemudian kita dapat mengakali masalah yang ada dengan memperbaiki perilaku hidup kita, dari yang kecil hingga yang besar.

Masih ada salju dan virga selain hujan sebagai output dari siklus hidrologi yang berjalan. Hanya saja, hujan merupakan barokah untuk kita yang dapat diambil hikmah atas kehadirannya. Sebuah biji akan menjadi bibit tanaman untuk kemudian menjadi pohon yang dapat kita petik manfaatnya secara berkelimpahan.

Jika kita lupa membawa payung atau jaket, jangan pernah kecewa dan menyalahkan hujan sebagai penyebab dari ketidaknyamanan yang menimpa. Ingat saja sebab dari adanya tanaman-tanaman yang ada di sekitar, dan berhujan-hujananlah sesekali. Menyewa jasa ojek payung juga tidak buruk. Siapa tahu memang Allah menakdirkan untuk dapat bersilaturahim dengan seseorang hanya jika hujan turun ketika itu. Dan lalu jika ada banyak waktu luang,  kita bisa memperhatikan pekerjaan apa saja yang hanya muncul justru ketika hujan turun. Seperti seorang bapak yang berjalan santai dengan gerobaknya yang dipenuhi jas-jas hujan dagangan. Barangkali ada sebersit syukur dan takjub.

Jikapun ia rela turun, ia kan turun bukan karena ingin kita. Namun, karena memang Allah menghendaki untuk itu. Ia, yang dengan kehadirannya dapat membawa gumam-gumaman dalam bathin meski hanya sepintas.


/kit

Senin, 22 Februari 2016

Retak dan Rekat

Retak dan rekatnya tergantung pada pengguna dan pendengarnya. Karena komunikasi merupakan tali yang digenggam oleh dua arah. Jika hanya satu yang memegang talinya, itu disebut penyampaian informasi.

Untuk hal yang paling 'remeh' karena dapat saja dikeluarkan meskipun tanpa indera. Kata akan terungkapkan dengan atau tanpa perantara. Sebagaimana maksud yang akan tersampaikan bahkan tanpa dimaksudkan untuk disampaikan.

Bagaimana sebenarnya kita memaknai silaturahim? Sebuah tali transparan yang menghubungkan jiwa kita dalam berselaraskah?

Yang menjadi kesalahan adalah ketika kacamata kadung menyamaratakan segala warna yang terlihat. Sehingga luput dari lensa bahwa ternyata ketidakadilan tengah terjadi, sejak dalam penglihatan.

Sebuah kamus akan mengalami revisi karena begitu banyak kata baru yang masuk seiring dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Mungkin begitu pula yang terjadi kepada kamus yang kita miliki. Jumlah lemanya bertambah, definisi dari lema-lema yang sudah ada sebelumnya bisa saja dierbaharui atau disunting. Yang menjadi sebuah kesalahan adalah ketika kita mengira kamus kita begitu populer sehingga tidak dibutuhkan untuk menjelaskan kepada pemilik kamus lain untuk saling bertukar pemahaman, Keinginan untuk dimengerti, ketidakberanian mengungkapkan maksud bisa saja terjadi hingga berujung pada kekecewaan ketika mengalami kegagalan dalam berkomunikasi.