Selasa, 29 Desember 2015
Masyarakat Tanpa Kendaraan Pribadi
Selasa, 15 Desember 2015
Ayam Masak Kalimantan
Mendapatkan resep ini dari buku resep. Minus petis udang.
Saya pemula. Maka saya menuliskannya menggunakan standar saya. Selamat praktik :)
Rasa: manis, harum daun jeruk, asam, bisa agak pedas.
tekstur saus: agak kental
Alat:
ulekan
pisau
talenan
kompor
wajan
susruk/spatula
Bahan:
2 buah jeruk nipis
2-3 sendok teh garam dapur
5 cabai keriting merah
3 cabai rawit
8 bawang merah
3 bawang putih
5 daun jeruk
4-5 sendok makan saus tomat
2 sendok teh garam dapur
kecap
2 gelas air
Langkah persiapan ayam:
1. Bersihkan ayam dari darah dengan membilas beberapa kali sambil membersihkan lendir dan lemak-lemak serta bulu yang mungkin masih menempel semampu mungkin.
2. Beri perasan jeruk nipis.
3. Beri garam.
4. aduk rata menggunakan tangan.
5. Jangan acuhkan hingga 20-30 menit.
6. Goreng ayam hingga matang. angkat.
Langkah persiapan bumbu:
1. Ulek kasar bawang merah, cabai rawit, cabai keriting merah, bawang putih, dan garam bersama-sama.
2. Belah seluruh daun jeruk menjadi dua bagian.
Langkah kerja sesungguhnya:
1. Tumis bumbu hingga harum.
2. Beri daun-daun jeruk.
3. Bersihkan sisa bumbu yang ada di lumpang/ulekan dengan membilasnya dengan sedikit air.
4. Masukkan potongan-potongan ayam yang telah digoreng.
5. Aduk rata beberapa menit. (2-3 menit).
6. Masukkan air dari langkah kerja nomor 3.
7. Masukkan saus tomat dan kecap
8. Aduk rata.
9. Tambahkan air.
10. Aduk lagi.
11. Tunggu hingga kuah mengental.
12. Cicipi.
13. Tambal yang dirasa kurang.
14. Angkat.
Pada sesi pemanasan berikutnya, saya menjadikan ayamnya berbentuk suwiran agar lebih meresap dan mudah dikonsumsi.
Beberapa catatan #kataIbu
Manfaat jeruk nipis pada ayam adalah menghilangkan bau amis serta memperbagus warna ayam yakni menjadikannya lebih putih.
Ketika menggoreng ayam pada langkah persiapan ayam, jangan lupa gunakan tutup wajan karena akan meletup-letup minyaknya.
Ketika di langkah persiapan bumbu, baiknya seluruh bahan diulek bersamaan atau nyaris bersamaan. Karena akan bau lumpang jika menunggu giliran satu per satu bahan tergerus halus.
Senin, 07 Desember 2015
Adagium Istirja'
Rabu, 25 November 2015
Terima kasih. Kau guruku ketika aku fasilitatormu
Senyum, tawa dan segala keapaadaannya adalah suatu ajaran dan ajakan untuk bermuhasabah. Pembeda anak - anak dengan orang berumur lebih (dewasa menurut negara) adalah takaran kejujuran dan kelugasan yang tentunya tidak akan bermain kesengajaan dalam segala laku karena pengetahuannya belum mencapai kadar yang sama dengan orang yang lebih banyak masa hidupnya.
Terima kasih. Bertemu muka denganmu mengajarkanku banyak hal. Salah satunya adalah teguran bahwa menjadi fasilitator adalah bukan menjadi penguasa masa - masa yang kita lewatkan bersama. Bukan penghukum dan pemberi hadiah untuk setiap laku yang dinilai subjektif (perspektif sempit) hitam-putih salah-benar menurut keilmuwan akademik.
Takutmu adalah artikulasi dari rasa belum bebas dan percayanya kamu padaku atau kami, untuk layak menjadi fasilitator di waktu - waktu berhargamu itu. Belum percayadirinya kamu adalah pengingat yang halus padaku bahwa ada yang perlu dipertanyakan sebagai konfirmasi: masihkah kita bersepakat untuk sulit dalam memaafkan kesalahan - kesalahan meskipun kecil?
Yang kutarik dari interaksi singkat kita adalah aku senang kamu akhirnya mau menerimaku setidaknya sebagai teman yang nantinya bisa kamu percayai untuk berdiskusi tentang banyak hal. Termasuk mengenai pustaka hijau yang multifungsi karena bisa menjelma menjadi laboratorium, perpustakaan, arena bermain, dan ruang muhasabah kita bersama.
Terima kasih telah pernah mengizinkanku untuk menjadi bagian dari proses belajar apapun yang mungkin bisa kita petik manfaatnya bersama - sama. Tidak apa walau sedikit, karena untuk segala yang kita lakukan, percayalah, aku membeli hatimu dengan hatiku.
21Nov2015
Jumat, 06 November 2015
let the unseen, seen
Awal Maret 2015.
Masih dalam rangka pencarian 'obat'. Mereka memutuskan pergi keluar justru ketika kebanyakan yang lain sedang terlelap. Karena mungkin saja wajah jujur apa adanya hanya muncul ketika jarang pasang mata yang memperhatikan apa - apa saja yang tertimpa cahaya, katanya.
Siang untuk mencari rezeki dan malam untuk istirahat mungkin tidak berlaku dengan tegas bagi ia. Sosok yang menyapa mereka pertama kali di jalanan lengang. Seorang lelaki dengan gerobak di belakangnya. Dibalik sekat dari triplek di belakang punggungnya ia menyimpan salah satu harapan bekal masa depannya, seorang bocah yang dibangunkan agar menyantap apa yang mereka 9tawarkan di tengah malam rintik hujan selagi bapaknya masih menyusuri jalanan lengang.
Dingin menggigit kemudian dengan murah hati menunjukkan hal lain pada mereka kala itu. Ada seseorang yang dalam diam bertahan bersama plastik di sekujur tubuhnya disamping gerobaknya di tengah hujan yang terjun melembut. Ia mendekap lutut dan diam. Mereka kira ia sakit. Khawatir tapi tak bisa banyak berbuat kecuali menyapa dan coba berkomunikasi dalam gelap. Uluk tangan darinya cukup bisa dianggap sebagai respon yang luar biasa dari sosok yang kaku dan gamang ini.
Rintik juga mengiringi sekeluarga minus ayah yang dengan gaya dewasa dan ramahnya, si sulung mau mereka ajak berbicara dan ramah tamah ala kadarnya. Ia membersamai adik - adiknya mencari sampah - sampah bernilai ekonomi dalam gelapnya malam. Katanya mereka sudah dalam perjalanan pulang.
Tak berani membangunkan pulasnya wajah - wajah yang tertidur di trotoar samping rumah mewah. Mereka hnya mletakkan 'sapaan' sejumlah yang ada di bawah atap tenda bersanggakan gerobak.
Pulas betul anak beranak ini. Mungkin lelah.
Di tengah isu begal, kenekatan ini memang disengaja untuk mendapatkan kontrol secara nyata. Agar gembira tak terlalu dan sedih juga tak terlalu, ujar mereka.
"habis darimana?"
"mencari rezeki". Jawabnya singkat ketika kutanya.
Kamis, 29 Oktober 2015
tombo ati ke enam. Padang Bulan.
30 agustus 2015
Darah seperti tersirap ketika ia dengan senyum manis misteriusnya dan aku yang manut mengikuti saja langkah kemana ia pergi dengan tanda tanya.
Jles... Kaki bertemu muka dengan sesuatu yang lembut dan sejuk. Agak menggelitik di mula. Telapak kaki menjejak, menyisir pasir - pasir. Tanpa alas.
Belum usai mata beradaptasi dengan nuansa malam yang minim lampu, kemudian menjadi tanpa lampu, serta kacamata pula, aku mendengar debur ombak. Lagunya berkawan dengan gelap. Angin menyapa tak terlalu kencang. Kemeresek gesekan cemara sesekali menyambut sapaan angin padanya. Aku menunduk memerhatikan langkah.
Tapi kemudian ketika mengangkat wajah, mata tanpa kacaku menangkap sesuatu yang besar menggantung di langit malam di atas lautan gelap. Di air laut terpantul indah sinar bulan yang belum begitu tinggi. Sebuah tangga di atas laut menuju ke bulan. Oh ternyata ke bulan tak perlu pakai becak atau kuda. hehe
Seperti terbius sensasi menyenangkan. Aku cuma bisa tertawa nyengir. Minim kata.
Ia bertanya pendek retoris
"gimana? bagus kan?"
haha baru ku tau. Ia romantis. Ia sukses membuatku cengar - cengar sampai beberapa bulan setelah peristiwa ini.
Tanpa bisa banyak menjawab. Aku hanya nyengir puas saja sambil ber "waw" pendek. Belum. Aku memang lama menemukan padanan kata kagum. Cukup sepihak saja komunikasi ini. Bulan dan teman - temannya sedang mengizinkan diri mereka untuk bisa dinikmati dan ditafakuri keindahannya oleh kami. Komunikasi sepihak ini indah. Maka, mungkin itu yang membuat kata - kataku tak keluar. Melemah di hadapan mereka.
Indah. Sekali harmoni ini. Gelap bertelanjang kaki angin sepoi dan cahaya rembulan.
Ketenangan menyelisip. Butuh untuk berdiam beberapa masa rasanya untuk menuruti egoisme. Aku inginkan momen itu tenang beberapa saat saja. Biar kurekam dengan baik tanpa gadget.
------------------------------------------------------
rupanya ia inisiatif melakukan itu karena ingin menghibur hati beberapa dari kami yang sempat patah karena tak jeli membaca jadwal sehingga ketinggalan kapal untuk pulang. Jujur saja, ketertinggalan tersebut kutanggapi dengan santai dan mudah untuk dilupa lupakan. Aku memang sedang mencari obat hati ke enam, tapi bukan untuk sebab luka yang itu. Karena ada duka lain yang lebih pedih.
tombo teko.
