Kamis, 03 Juli 2014

Penelitian

bismillah...

Penelitian adalah salah satu konsekuensi penerimaan ilmu pada seorang insan disamping menyampaikan dan menerapkan. Semester 8 pada umumnya adalah semester penelitian bagi mereka yang menasibkan diri mereka dengan label sebagai mahasiswa calon sarjana. Setelah tiga setengah tahun menjalankan proses perkuliahan yang kurang lebih sama dengan masa SMA, (karena yang berbeda hanya konten dan administrasi serta regulasinya saja), maka di 6 bulan pada semester 8 adalah masa - masa mendapatkan dosen pembimbing, pemilihan judul, pembacaan jurnal, pembacaan buku - buku serius (karena sebelumnya lbh banyak lembaran potocopyan yang akhirnya jado candaan atau hilang tersisih terlupakan), serta doa dan keruwetan penerimaan ilmu baru dan pembacaan kait jaring - jaring pengetahuan yang sama sekali baru dikecap di enam bulan tersebut. Entah, bisa jadi yang anda rasakan tidak sama dengan saya, tapi kurang lebih begitulah saya mendeskripsikannya.
Di semester - semester sebelumnya mungkin juga diisi kegiatan yang sama. Tetapi bedanya adalah, niat dan tingkat keseriusannya.
Niat selama 7 semester sebelumnya tidak bisa dibohongi adalah nilai dahulu barulah ilmu. Kecuali bagi mereka yang alhamdulillah dapat berkesadaran di tengah jalan karena tak sengaja membaca artikel, buku, atau obrolan yang mencerahkan. Bahwa proses pembelajaran lebih penting daripada hasil di KHS.
Penelitian ini ternyata tidak bisa suka - suka hati karena ada tanggungjawab dalam setiap pilihan. Termasuk pilihan jurusan. Tidak sedikit yang mengalami kegalauan tentang minat bakat mereka saat tengah memakan bangku kuliah. Itulah salah satu masalahnya. Ketika persoalan dan titik jaring pengetahuan baru lebih terang ketika di bangku akhir. Bukan karena penelitian semata, namun karena diri lebih dituntut untuk mengukur baju do badan, memantaskan diri dengan penelitian yang akan dilakukan.
Persoalan lebih terang seiring dengan kejelasan pengetahuan. Pengetahuan dituntut lebih banyak drpada biasa karena penelitian di semester delapan. Jadi, bisa jadi keterangan pemikiran adalah akibat ulah penelitian serius pertama dan terkahir mahasiswa calon sarjana semester delapan karena tuntutannya untuk lebih serius membaca jejaring, lebih dari biasanya.
Penelitian yang dilakukan mahasiswa tidak dapat dipungkiri mendapat batasan dari kekuasaan di atasnya seperti dosen, birokrasi, administrasi, dan segala keterbatasan lainnya.

Saya dan 2 teman sempat mencicipi takjil masjid cilangkap. Kami kuyup karena menerabas hujan tanpa jas hujan dan saya tanpa helm walau dengan jaket. Kami berangkat dari cibubur menuju cipayung, pondok gede, dan rawamangun. Sore itu kami berkesempatan memaknai kembali perjuangan yang tengah dilakukan. Rezeki akan datang pada waktunya.
Hujan dan dingin yang tersisa ketika kami terpisah mungkin menjadi curahan doa dan harapan kami yang bisa jadi berbeda - beda.

Penelitian ini. Aah.. kenapa baru muncul di saat akhir di waktu yang begitu singkat. Mungkin mereka lupa, ini adalah penelitian serius yang pertama dan terakhir yang mereka perkenalkan. Saya membawa diri saya kembali saat menjadi mahasiswa baru. Pertanyaan pertama yang kami teman sekelas dapati adalah "kenapa kamu memilih jurusan ini? Oke, berapa banyak karya sastra inggris yang lamu tahu?"
Di semester tujuh, pertanyaannya tak jauh berbeda
"berapa banyak buku yang pernah kamu baca?"

We are not making any important pervasive progress right? Isn't it?

Yaa Maulanaa....
Mengapa ilmu terpisah dengan kehidupan kini? Aku berangkat mencari waktu situasi kondisi suasan demi skripsi tapi itu sekaligus harus berbenturang dengan kendala sehari - hari yang belum mampu kutangani. Inilah keterpisahan itu. Aku banyak membaca tapi mandul brrtindak. Laku dan pikiran belum sejalan. Adakah guna kesadaran ini?
Saya hanya setitik dari miliaran insan di bumi. Entah berapa banyak dan berapa perbedaan kisah pembelajar di seluruh penjuru bumi, khususnya nusantara.

Ilmu, Adab, Amal, -al ghazali
Education is not preparation of life, education is life itself -john. Dewey

Senin, 30 Juni 2014

Shaff terdepan

Bismillah...

Shaff terdepan adalah panutan. Makmum adalah masyarakat, imam adalah pemimpinnya. Maka shaff depan senantiasa adalah teladan bagi shaff belakangnya. Shaff depan adalah siapa saja yang lebih dulu mau dan tergugah hatinya untuk menempati posisi tersebut dan memperoleh keberkahan - keberkahan.

Saya ada sedikit pengalaman soal keprotokoleran tepat satu tahun yang lalu. Protokol adalah penyambutan tamu - tamu. Awalnya saya pikir segala peraturan yang ada hanyalah untuk kesopanan saja sebagai tuan rumah. Ternyata tidak. Dengan peraturan yang memiliki undang - undang, keprotokoleran menjadi penting dalam hubungan politik antar negara. Salah satu yang menjadi tata pengaturan dalam keprotokoleran tamu negara adalah posisi masing - masing delegasi selama suatu acara berlangsung.

Tempat duduk diatur sedemikian rupa agar tamu tamu negara  menempati posisi pada tempatnya. Tempat yang paling terhormat adalah untuk mereka yang terlebih dahulu atau paling lama dalam sejarah menyerahkan credential letter kenegaraan.
Akan berbeda lagi jika perwakilan atau CDA (charge d'affair) tidak memiliki pasangan (spouse). Jadi, ada atau tidaknya pendamping, akan mempengaruhi pengaturan tempat duduk. Itu padahal baru membahas masalah teknis. Belum soal kerjasama antar negara. Yang ingin saya tekankan adalah bagaimana suatu kehormatan dan kepercayaan antar negara kemudian mempengaruhi letak tempat duduk. Bak percaturan dan peperangan.

Yang mengagetkan adalah, pada shalat besar (fardhu kifayah), shaff pun diatur oleh keprotokoleran. Entah bagaimana pembahasan tentang hal tersebut dalam fiqih shalat. Apakah kehormatan seseorang di dunia juga mesti disamakan dengan kehormatan versi manusia bahkan dalam urusan hendak menghadap Tuhannya ketika shalat?

Lain lagi shaff terdepan dimata saya.
Mengapa trdpt keutamaan2 dlm shaff terdepan? karena
Pertama, orang2 yg mnempati posisi depan ini adalah teladan bagi shaff dibelakangnya. Dan keistiqomahan shaff depan menjadi tanggungan shaff smpai belakang karena bila tempat didepan kosong, akan mempengaruhi perpindahan hingga belakang...

Ketika iqamah berkumandang, tentu sangat merepotkan bukan jika terjadi penataan dan perpindahan secara masif hingga ke ujung shaff paling akhir?
Itulah mengapa pemahaman fiqih dan adab terutama untuk perintah wajib adalah wajib pula untuk kita ketahui dan pahami.

Perkara kehormatan dan tempat atau posisi rasanya sangat menghantui saya di saat bulan Ramadhan. Yaitu ketika banyak sekali ditemukan anak - anak menempati posisi terdepan. Mereka akan sangat menenangkan bila menjadi contoh teladan anak lainnya bahwa shaff terdepan menyimpan banyak kemuliaan. Namun, sungguh sangat mengganggu makna dan esensi shaff depan bagi barisan umat. Anak yang belum baligh, belum bisa dikatakan berilmu, maka sama saja dengan hukum bila seorang gila shalat yaitu tidak wajib.

Ternyata saya menemukan dalilnya untuk perkara anak kecil di shaff terdepan, yaitu

"Hendaklah orang yang di belakangku orang yang paling berilmu dan yang paling pandai di antara kalian" HR Muslim, 432 dari Abdullah bin Mas'ud
(Dikutip dari Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Halal dan haram dalam islam.)

Jelas bahwa ilmu dan kepandaian adalah yang utama dalam menempati shaff terdepan. Dan juga pastilah orang berilmu yang mengetahui banyak sekali manfaat dan keutamaan menempati posisi tersebut. Ilmu yang sesungguhnya bukanlah gelar - gelar serta prestasi melimpah dalam cabang ilmu dunia seperti saat ini. Ilmu yang dikatakan cahaya terutama adalah ketika seseorang mengkaji ilmu dalam qur'an, hadits, adab dan fiqih. Sehingga dalam beribadah, seseorang tersebut paham hendak menempatkan sesuatu dalam porsi yang baik dan benar. Tepat.

Tapi bukan berarti kemudian usia mempengaruhi kehormatan seseorang dalam beribadah shalat sesuai shaff. Karena sungguh kembali ke ilmu

"Barangsiapa  mendahului menuju sebuah mata air yang belum di dahului seorang muslim pun, maka ia lebih berhak terhadapnya" HR Abu Dawud, 3071 dari Asmar bin Mi'ras. Ahmad, 21868 dari Tsauban

Ada hal - hal yang harus diseimbangkan antara malu dengan rendah diri atau percaya diri dengan ke ge-eran. Jika seseorang mengklaim dirinyalah yang lebih berhak dari yang lainnya atas suatu posisi (secara berlebihan), ia telah kehilangan hak tersebut karena kesadarannya. Dan juga sebaliknya, jika malu dalam mengerjakan kebaikan, berarto dia telah memberi kesempatan pada anak kecil yang kurang ilmu menempati posisi shaff depan. Sehingga dalam melaksanakan shalat berjamaah, bukan hanya shaff di belakang anak kecil tersebur yang terganggu, melainkan juga seluruh jamaah yang mendengar gangguan atau menangkap gangguan secara visual.

Rapatkan barisan, sehingga instruksi dari komunikasi aba - aba imam terhantarkan ke seluruh jamaah dengan baik. Tidak ada lagi miskomunikasi.

Keprotokoleran cukup terjadi pada sistem pemerintahan. Jangan sampai berlaku di masjid - masjid. Kembalikan penyatuan ilmu dengan adab.

Minggu, 08 Juni 2014

kuat-lembut


Bismillah..
Dalam sebuah cerita, ada masa dimana sang aktor menelungkupkan tangan pada wajahnya. Itu bias jadi adalah pengucapan untuk penyesalan atau syukur.
Baru saja kusaksikan, seseorang yang menulis benar – benar dengan hatinya. Ada juga yang beraksi dengan niatannya. Hatinya teguh karena yang dia kenal hanyalah keberanian menyampaikan kebenaran dan keteguhan. Orang – orang yang begini, kusarankan agar kau rajin – rajin mengamati mereka. Belajar dari mereka. Yang kusyukuri lebih jauh adalah mereka pantas menjadi imam. Tidak seperti seorang ikhwan yang meyakinkan saya berkali – kali untuk memegang suatu jabatan karena meyakini dirinya tak layak.
Justru, saya menyerang dia habis – habisan hanya lewat beberapa percakapan. Seharusnyalah laki – laki merenggut taring mereka yang hilang. Feminisme muncul karena mereka, sepatutnyalah dihilangkan oleh mereka jua. Jangan menjadi yang lemah. Jangan ragu menjadi imam.
Jika perempuan lebih tangguh dalam suatu kondisi, itu adalah atas izin-Nya sebagai pembuka mata dan pengetuk pintu hati bagi setiap laki – laki yang masih berada pada zona nyaman mereka. Kemudian jika jiwa perempuan tangguh ini mulai merasa lebih tangguh, perasaan itu bias muncul karena pembiaran dari laki – lakinya. Ragu – ragu dalam mengucap bacaan aba –aba gerakan shalat.
Porsi perempuan dalam sebuah pergerakan adalah pendamping. Ia duduk sempurna ketika berada disana. Karena yang memiliki tabiat ketegasan, penanaman, ada dalam sosok mudzakkir atau maskulin. Perempuan dengan segala perasaan kepekaan dan prasangkanya, baiknya tidak terlalu sering maju menjadi perisai. Ia paling baik dalam penjagaan formasi dan pemerhati koreografi inti gerakan.

Tulisan ini belum disempurnakan. Terinspirasi dari sebuah blog seorang calon imam yang tulisannya mempesona dan juga penggalan – penggalan kenangan yang masih disimpan tentang imam yang baik yang pernah memimpin (takbir tegas dan keras).

Kamar ibu, 2.05 pm (sedang dikejar deadline bab4)

Kamis, 08 Mei 2014

embun segar dalam hujan letih




Ini pertama kalinya saya mendapat amanah sebagai staff seksi acara sebuah pelatihan. 3 hari tidak dapat begitu saja dikatakan sebagai 'acara'. Pelatihan, seharusnya. Semuanya bekerja keras, semuanya berusaha mengemban amanah dengan sebaik - baiknya.. Agar meyakini benar - benar bahwa peluh kami saat itu bukan lantas tenggelam dalam kubang kesia - siaan. Bukan sekedar membuang waktu yang sangat berharga.

Acara tersebut adalah GESTURE (Get Spirit through Adventure)

Pembicara terakhir pada hari sabtu itu adalah seorang Ustad yang berdomisili tak jauh dari Bogor. Padahal sudah waktunya untuk Materi berikutnya dari Ustad tersebut, namun belum datang juga. Setelah d hubungi, Ustad mengaku terlambat karena hujan besar yang memang saat itu sedang mengguyur deras daerah sekitar Puncak, Bogor.

Dua jam lamanya kami menunggu kedatangan Ustad. Jujur, hati saya agak kesal karena leterlambatan pembicara. Namun, setelah teman saya menjelaskan bahwa Ustadnya memang seorang tuna daksa, hati saya mencelos. Berbalik arah, “Bagaimana beliau akan kemari? Perlukah kami jemput?” terlambat. Saya sudah terlanjur bersu’udzon pada beliau. Astaghfirullah... Teman saya menyahut “gausah, beliau dianter sama temennya”. Huff, lega,, batin saya. “Naik motor tapi”. Waduh! Hujan besar, naik motor dengan keterbatasannya.. pantas saja L

Ditengah suara hujan yang setia menyapa atap aula, Ustad yang ditunggu telah datang. Dengan pakaiannya yang basah, beliau tersenyum memandang kami, berlalu menuju ruang istirahat sementara diatas punggung temannya. Ia harus di gendong. Kuhela nafas, seulas senyum kagum pada sosok Ustad ini. Dari Cibubur sampai Cisarua bukanlah waktu yang singkat. Mengingat hari itu adalah hari sabtu, dimana kemacetan merajalela. Dan tak lupa, deras titik air yang memang setia jatuh di kota hujan ini.

Sang Ustad memulai pembukaan Materi Quantum Ikhlas. Materi yang cukup berat untuk saya, maka, saya sangat bersyukur dapat menyimak setiap apa yang Ustad bicarakan mengenai Quantum Ikhlas ini.

Keikhlasan hati, menjadi sulit untuk dideskripsikan dan diteksi. Padahal, ikhlas atau tidaknya suatu hati hanyalah diri kita pribadi dan Allah yang mengetahuinya. Sebagai contoh, dalam peristiwa pertengkaran yang menyebabkan kematian salah satu pihak. Belum tentu pihak yang membunuh lah yang akan masuk ke neraka. Kenapa? Karena seandainya si terbunuh tidak meninggal, siapa tahu dia akan membunuh juga atau tidak. Apapun yang tampak dari luar, seringkali tidaklah sama dengan yang ada pada niat dalam hatinya.

Ada perbedaan tipis antara riya’ dan rendah hati. Menyarungkan pedang saat terjadi peperangan karena merasa rendah diri, dan hatinya tak ingin bila ada orang yang melihat ia membawa pedang, termasuk sifat riya’. Kenapa? Karena mengusung pedang dihadapan orang kafir bukanlah hal yang berdosa dan perlu kita sembunyikan. Ada pula kasus dimana saat seorang ulama yang sedang tilawah Qur’an tiba – tiba menyembunyikan mushaf nya saat mendapat tamu dalam rumahnya. Ia merasa tak perlu ada orang lain yang tahu saat ia mengaji. Itu adalah sifatnya yang rendah hati.

Contoh lainnya adalah, seseorang yang merasa malu bila terlihat sedang pergi ke Masjid untuk shalat berjamaah, atau menyegerakan shalat. Itu adalah riya’. Mengapa merasa malu untuk sebuah kebenaran? Kecuali orang tersebut memang masih meragukan mana yang benar dan mana yang salah.

Yang terpenting adalah, ikuti kata hati pada hal – hal yang kita yakini benar adanya. Menjadi tuli juga diperlukan disaat kita butuh mendengarkan sugesti positif dari sekitar dan membuang sugesti negative yang dituangkan lingkungan. Semoga bermanfaat J

Sabtu, 03 Mei 2014

Tambal


Pernahkah terbesit pertanyaan mengapa ada yang namanya polisi tidur? Awalnya, polisi tidur ada karena pengendara motor dan mobil kerap tak mengurangi kecepatannya dalam berkendara meskipun  berada di kawasan gang warga. Maka, tergagaslah dibuatnya polisi tidur. Jika kita perhatikan lagi, awal mula permasalahannya adalah pengendara yang membahayakan warga di gang karena tidak mengurangi kecepatan dan kurang berhati – hati. Kalau begitu, mengapa tidak diatasi dengan penyuluhan kepada para pengendara agar tidak memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi? Atau pembenahan yang sangat selektif dibawah pengawasan yang berwenang tanpa kongkalikong sama sekali ketika pembuatan Surat Izin Mengemudi?

Sepertinya kita terbiasa atau bahkan kecanduan dengan cara – cara instan, yang ketika suatu barang rusak, lebih baik membeli barang lainnya yang serupa. Tanpa upaya memperbaikinya. Itulah yang terjadi pada kebijakan – kebijakan pemerintah. Ketika mendeteksi permasalahan, solusinya adalah pembuatan program yang baru. Tanpa ada upaya evaluasi atau bahkan memperbaiki program yang lalu yang masih berjalan hingga kini. Maka, tidak heran jika muncul istilah ganti pemerintahan, ganti kebijakan. Berapa banyak dari kita yang benar – benar mendengar generasi tua? Yang kembali menilik dan belajar dari sejarah?

Soal tambal sulam menjadi pijakan utama saya ketika memandangi program – program dari pemerintah soal pendidikn. Pertama, UN (Ujian Nasional). Sejak pertama kemunculannya, sudah diperdengarkan suara – suara kritis yang meminta pemerintah untuk mencabutnya. Segelintir dari dosen – dosen, guru, dan pengamat pendidikan melakukan protes, analisis, surat terbuka, nasehat, bahkan mengajukan perkaranya ke Mahkamah Agung sejak tahun 2003. Namun sampai tahun ini Ujian Nasional tetap dilaksanakan. Sedangkan kita lebih sering tetap berputar – putar dengan menganalisis hal – hal teknis semata dimana itu berarti secara tidak langsung menyatakan diri setuju dengan keberadaan kebijakan, hanya saja teknisnya yang bermasalah. Tidak setuju dengan keberadaan dan perannya, dengan mendukungnya melalui permohonan pembenahan teknis jelas dua hal yang berbeda bukan?

Ujian Nasional kemudian menjelma menjadi tujuan persekolahan. Sayangnya, kita terlanjur menelan bulat – bulat bahwa persekolahan adalah juga pendidikan. Murid – murid sekolah yang duduk manis di bangku ketika semester akhir pastilah lebih hapal apa yang akan keluar atau menjadi kisi  - kisi dari ujian nasional ketimbang tujuan dari proses pendidikan yang terukir indah di Sisdiknas: memiliki kekuatan spiritual kegamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara. Ukiran Targetan – targetan yang mulia itu kemudian ternodai dengan laporan – laporan segala tindak tanduk kecurangan yang terjadi dalam tubuh Ujian Nasional. Meski tidak masuk perkara dan booming di televisi, kecurangan Ujian Nasional adalah sebuah fakta yang bersuara hanya dalam tiap hati nurani yang pernah menjalaninya.

Lebih dari satu dasawarsa, artinya sudah lebih dari sepuluh generasi yang terbentuk pola pikirnya bahwa dalam belajar ada kategori lulus dan tidak lulus. Dalam menempuh pendidikan ada yang namanya peringkat 1,2,3 dan seterusnya. Dalam mengenyam dan menuntut ilmu bertindak menodai nurani untuk berlaku jujur tidaklah apa – apa asal berramai – ramai. Akhirnya, institusi pendidikan pemerintah justru mengantarkan anak didiknya untul gagal dalam pengaplikasian dan mengamalkan apa yang telah dilalui selama 12 tahun lamanya.

Kurikulum 2013 yang mulai 'menghantui' lewat wacana sejak akhir 2012 juga tidak kalah heboh menghentak kerepotan persekolahan. Selama guru masih menganggap sebuah kurikulum sebagai kitab suci (kaku dan tidak bisa diotak/ik atau diimprovisasi sama sekali), maka pergantian kurikulum berapa kalipun, akan tetap blunder. Triliunan yang habis demi kebijakan baru ini kemudian dinilai sebagai proyek karena jelas sekali terlihat karbitan. Mengapa kita tidak memberikan penyuluhan saja dan pelatihan guru - guru hingga pelosok demi menyukseskan reformasi pendidikan di ruang - ruang kelas kita? Jika memang Kurtilas adalah penyempurnaan dari KTSP, mengapa mengganti nama? Mengapa harus ada benda baru yang muncul diantara masalah kita? 

“Maju atau mundurnya salah satu kaum bergantung sebagian besar kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada suatu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka.” itu kata M. Natsir.

Ketika ramai - ramai diberitakan di media bahwa guru - guru kita kurang kualitasnya, maka pemerintah menelurkan kebijakan sertifikasi dan PPG. Sebuah kebijakan baru demi memperbaiki kualitas guru - guru. Seperti adanya polisi tidur tadi, mengapa kita tidak membenahi pusat asal muasalnya calon guru? sebut saja LPTK. Ruang - ruang kelas kita sunyi dan kering karena terjadi pemisahan pemaknaan antara buku dengan sastra. Guru lebih suka anak - anaknya jago memecahkan soal daripada tepekur diam lama menyusun puisi dalam benaknya. Kebijakan yang baru saja muncul di salah satu LPTK di Jakarta adalah kewajiban mengambil mata kuliah prosa. Tidak sedikit teman - teman calon guru yang protes dan mengaku tak menyukainya karena merasa berbeda, 'saya bukan anak sastra'.

LPTK kita perlu pembenahan bukan saja dari kurikulumnya, melainkan juga dari tradisi akademik, hingga jalan berpikir. Kita bergaug di jejaring sosial media merayakan hari pendidikan nasional yang jatuh pada tanggal 2 mei. Namun, seberapakah dekat LPTK dengan sosok yang pada tahun meninggalnya turun Kepres untuk menjadikan hari lahirnya sebagai hari pendidikan nasional? Pernahkah di ruang - ruang tempat calon pendidik, penata peradaban bangsa mengulas pemikiran dan prinsipnya lebih mendalam?

Yang perlu dibangun kemudian adalah pemahaman kembali pentingnya pendidikan bagi bangunnya sebuah bangsa, seperti yang dikatakan M. Natsir diatas. Sehingga kaum yang katanya terpelajar (terutama di kawasan LPTK) mampu mendeteksi adanya kriminalisasi pendidikan dan secara penuh berkesadaran untuk menjadi pendidik - pendidik amatir (yang bergerak dengan cinta) bukan karena profesi dan mengejar sertifikat semata.

Ketika kaum yang katanya terpelajar tidak menyadari betapa mulia jalan masa depan mereka, pun gagal membaca kriminalisasi pendidikan yang ada, bahkan menolak untuk menjadi amatir demi profesionalitas, maka, pendidikan Indonesia harus bertahan beberapa massa lagi demi terhapusnya hegemoni rezim ijazah.
-> mari membaca sejarah

Senin, 31 Maret 2014

bosan gerak

mereka bergerak, hanya ketika ada yang familiar.
kami menengadah pada kreativitas, tapi dia membuang muka.
suatu saat, aku bergumul pada kebingungan.
karena aku bingung apa yang kubingungkan.
Padahal, itulah pertanda kekosongan.

dia berteriak "Mandiri!"
entah dia guru yang baik atau mentor yang keji
mungkin minus kacamataku yang bertambah
jadi aku melihat semuanya seperti buram

menjadi warna yang berbeda dalam trotoar,
aku seperti harus bertahan dalam ketulian.
kenapa harus ada prasangka sebelum mengenal?
ah ya, karena tak ada kepercayaan diantara kita

aku jadi sepertimu, berteriak pada kreativitas
"Kamu dimana?!"
dalam gerakan ini terdeteksi adanya bosan
tapi yang mendeteksi sebagian cuma diam
atau malas, jadi menyelipkan temuannya,

dia malas, engkau malas, aku juga jadi malas
padahal, kreativitas menengadahkan tangannya sambil berteriak pada media
tapi aku, kamu, dan dia cuma menengok dan bilang "Oh!"
kenapa kita masih jalan di tempat kalau begitu?

karena kreativitas kita lihat cuma mengais puing - puing tradisi peninggalan tetua kita, yang anti perubahan barang secuil,
secuil saja, mendapat tatapan sinis, dibilang gak logis karena gak pragmatis.
aku, kamu, dan dia. Kita sama - sama berparasangka pada media.

Idealisme Gie Sunyi






Ada beberapa hal yang saya tangkap setelah menonton film Soe Hok Gie. Salah satunya adalah kesepiannya sebelum mati. Ketika ia tertawa di pagar rumah Ira setelah ditolak ibunya Ira, ia justru tertawa. Tawa yang menyadarkannya bahwa ia sudah kesepian. Gie yang seorang bersuara lantang, kritis, rajin membaca keadaan dan hatinya selalu berkiblat pada rakyat. Titik awal yang membuatnya terjatuh adalah ketika ia justru sibuk dengan pacarnya. Seperti ketika saya menyaksikan fil Soekarno. Buang - buang waktu saja.

Ia seharusnya senantiasa meraptkan diri pada teman- temannya agar pemikirannya terjaga. Bukan hanya suara lantangnya yang kemudian menggaungkan nasib kekosongan seperti ketika ia akan mati. Ia mungkin masih bisa bersama teman - temannya untuk menjalankan aktivitas cita - citanya: kita nonton film dan naik gunung aja, tapi sekali - sekali, kita hantam kesewenangan pemerintah!

baiklah, yang saya lakukan nayatanya hanyalah merutuki apa yang di cover oleh sutradara film. Tidak lebih. Pelajaran menarik yang dapat dipetik adalah, film ini puitis. Saya harus menundukkan kepala demi lebih seksama menangkap apa yang dibunyikan pada tiap - tiap kosakata puisi. Lebih mengena. Imaji saya lebih berwarna daripada yang dapat dinikmati secara visual dari layar.

Gie mencintai sastra. Saya hanya menyukai sepertinya. Gie mahasiswa sastra. Saya  juga. Gie adalah pengamat yang tak ingin tercebur ke dunia politik kotor. Saya cenderung mengadopsi sedikit sifat - sifatnya yang ini.

Sungguh yang terasa kini adalah perbedaan yang mencolok, antara aktivis kampus jaman Gie, dengan aktivis kampus masa kini. Saya sendiri juga jadi malu, tak banyak yang saya baca. Saya juga tak pernah ingin terjun aksi. Bahwa kita harus berpihak pada yang lemah, melindungi kaum lemah dari kesewenang - wenangan, itu sangat benar. Bahwa burung bisa merenggut kebebasan karena belajar terbang, itu nyata.

Tapi ada lagi, menyampaikan kebenaran itu baik. Namun cara juga penting. Maka, untuk hal yang satu ini, Islam mengaturnya dengan pelajaran adab.

Saya menonton Gie, saya dapat membaca bukunya, saya mahasiswa seperti Gie, saya menyukai sastra seperti dia juga. Tapi yang ada kini adalah berbeda. Saya bisa meniru beberapa keteladanan darinya, termasuk dalam berpikir.
#terbawa