Kamis, 02 Januari 2014

kotak pandora

  1. Niat dan realita
Pada awal kemunculannya, televisi dimaksudkan untuk menyapa masyarakat Indonesia secara langsung. Lewat satu – satunya lembaga penyiaran publik:TVRI, Soeharto kemudian meluncurkan satelit palapa. Itulah pertama kali televisi merambah sektor publik. Dalam perkembangannya kemudian, banyak pihak yang berlomba – lomba membuat lembaga penyiaran swasta. Semula untuk memberikan informasi jarak jauh, kemudian kini menjelma menjadi katalog bagi produsen menanamkan mental konsumtif pada masyarakat.

Setiap hari masyarakat dibombardir olah iklan dari produsen yang menjajakan barang dagangannya. Jika semula kita meyakini bahwa produsen lah yang membutuhkan konsumen, hal itu dapat dibalik, konsumenlah yang butuh produsen. Kebutuhan akan membeli barang tersebut adalah usaha menanamkan mental konsumtif, sehingga nantinya lewat familiarisasi, terjadilah interpelasi. Dimana produk sudah seperti menjadi identitas bagi konsumen itu sendiri. Dirinya seakan bukanlah seperti apa yang ia definisikan jika tanpa produk itu. Kesuksesan produsen dalam menarik konsumen tentu saja tidak terlepas dari pencitraan. Pendefinisian ulang lewat repetisi, jadi seperti doktrinasi. Contohnya adalah produk kecantikan. Seorang perempuan tidak akan dianggap sebagai seorang yang cantik bila tanpa pemutih. Ini juga berlaku untuk berbagai macam kategori seperti pintar, cantik, modern, kaya, terpandang, popular, bahkan baik.

Konsep yang terus menerus ditanamkan adalah konsep menurut produsen, tanpa kita sadari, Budaya pop juga mempengaruhi apa yang dipaparkan televisi, Sehingga sesuatu akan dianggap sukses atau sesuai dengan standar ketika sama dengan yang lainnya. Tanpa sadar, pemirsa dijebak dalam uniformitas.
Darimana dapat dilihat suatu paham atau budaya buatan sukses di pasaran? Ketika dilihat, pasar mulai menggunakannya, bahkan ketergantungan atasnya. Gangnam style, Boy band, girl band, krim pemutih, operasi wajah, ketika semua berbondong – bondong melakukannya, itulah artinya kesuksesan bagi pengusaha.

Hal ini senada dengan tim kreatif suatu program acara televisi. Tidak peduli apa yang disebabkan oleh acara yang mereka suguhkan pada publik, atas nama entertaining, pengejaran target demi mencapai rating tertinggi adalah sah – sah saja. Kita sudah menilik sebelumnya bahwa rating mempengaruhi pendapatan program dan stasiun televisi karena kebutuhan produsen untuk mengiklankan produknya. Sebenarnya antisipasi untuk bombardir iklan sudah ada lewat remote control, tapi yang terjadi justru pendidikan moral atau karakter seakan sia - sia. Contoh: ketika rasa kemanusiaan kita dikuras oleh suatu program televisi mengenai kesulitas saudara kita yang jauh di pelosok, tapi kemudian setelahnya, 15 menit kita sudah dipaparkan secara terus menerus kemewahan sebuah hotel atau gadget keren. remote control gagal menjadi tameng untuk menahan hawa konsumtif heavy viewers. Meluruhlah pendidikan karakter lewat televisi.

Kita sudah pernah mendapati siswa SD yang meninggal dunia akibat meniru tayangansmackdown. Seperti biasa, suatu kebijakan atau fenomena baru disadari sebagai suatu kesalahan ketika sudah memakan korban. Anak diyakini merupakan periode yang memiliki kelemahan dalam filterisasi. Maka, akibat pemaparan dari media televisi yang menggebu, yang dapat dilakukan anak sebagai pelampiasan adalah imitate (meniru) apa yang ia saksikan. Karena pada akhirnya, tayangan yang pantas untuk anak - anal bukanlah sekedar kartun atau tidaknya, tetapi lebih ke konten dan isi program itu sendiri. Disebutkan oleh Rasyid bahwa dari survey yang dilakukan di Jepang, program anak - anak seperti Sailor Moon dll, justru memberikan contoh pada anak - anak untuk bersikap anto sosial seperti tokoh2 di dalamnya.

Kecanggihan media

Kemirisan terjadi ketika masyarakat yang daya analisis literasi krtisinya kurang. Dapat kita tebak bahwa masyarakat yang daya analisis kritis terhadap literasinya kurang adalah masyarakat golongan menengah kebawah. Terbukti, dibandingkan menginvestasikan uang untuk belanja buku, masayarakat lebih memilih untuk membelikan televise. Tidak heran jika kita kerap menilai masyarakt kita belum siap menghadapi globaslisai karena terjadi ketimpangan dalam mendefinisikan globalisasi itu sendiri. Mengartikannya jadi sempit, maka pemuda desa berlomba mengikuti gaya kota yang hedonis dan materialistic, karena itulah yang dipaparkan televisi. Fenomena dimana pecandu berat penonton televisi (heavy viewer)  mengalami kesulitan dalam membedakan mana yang nyata dan yang buatan disebut sebagai kultivasi (George Gerbner).

Kehadiran televisi yang pada mulanya adalah solusi untuk merangkul penduduk dari Sabang hingga Merauke justru meluruhkan niatan itu sendiri. Terbukti, sebagao media komunikasi, televisi sebenarnya sama saja dengan banner. Satu arah. Monolog. Bukan komunikasi anatara dya pihak. Yang terjadi adalah kepalsuan, penonton yang pasif menyimak dan mendengarkan, seolah hal yang ada di televisi adalah kenyataan dan benar - benar menyapa secara langsung. Hal ini sebenarnya berbahaya, karena penonton tak lagi dapat membedakan mana yang palsu dan mana yang benar - benar terjadi. Keberpihakan media juga mempengaruhi terhadap apa yang didapat atau diterima (disajikan) kepada penonton. Dalam situs Kompasiana disebutkan bahwa perbedaan humas dengan jurnalis adalah, humas: berkata baik atau diam, jurnalis: berkata benar walau pahit. Yang terjadi kini adalah media masa diragukan tingkat independensinya. Sangat terasa, apalagi menjelang tahun politik ini. Sebagai receiver, penonton terbiasa terima jadi tanpa mengetahui proses pembuatan beritanya.

Dalam analisis wacana menurut Eriyanto, jurnalis bisa saja membentuk atau mengkonstruk berita yang disajikan dengan dua hal: membatasi pandangan receiver atau menyajikan opini - opini. Sehingga bukan penilaian secara menyeluruh yang akan dilakukan receiver, melainkan pilihan untuk memilih pandangan yang disajikan atau melihat pandangan yang sudah dipilah?

Dikonstruksi pasar
Saya seringkali berpikir, jika kita mendapatkan tontonan gratis semacam ini, darimana kemudian pengusaha media mendapatkan keuntungan ya? Barulah saya sadari ketika suatu acara televisi menyebut – nyebut istilah rating yang kemudian saya ketahui sebagai data minat penonton terhadap suatu program televise.
Dari suatu program televise yang sedang tinggi ratingnya, perusahaan produsen kemudian berlomba – lomba untuk menaruh iklannya dalam acara tersebut. Data yang diperoleh pada tahun 2012 cukup mencengangkan, belanja kotor iklan media di Indonesia mencapai 87,471 triliun rupiah, dan 11.172 juta spots/hari untuk televisi. Maka, dari iklan produk – produklah stasiun televise mendapatkan keuntungan. Pasar yang menggirukan inilah yang membuat pengusaha media berlomba – lomba menaikkan rating untuk mengeruk keuntungan. Darimana kemudian tim kreatif suatu program acara televise mengkonsepkan acara – acara yang akan dikemas untuk ditampilkan di depan public? Dunia perbisnisan bergantung pada pasar. Kita sudah paham soal ini, dimana dalam mencari keuntungan, pasarlah yang berkuasa.

‘ibu asuh’ dalam pendidikan
Penelitan di Amerika menunjukan bahwa menonton televise pada bayi proses wiring , dimana penyambungan di antara sel – sel saraf dalam otak tidak semourna. Anak – anak belum mendapatkan pengalaman empiris, sehingga konsentrasi anak terganggu akibat virtualisasi yang meloncat – loncat (rasyid, 2013:183).
Kesibukan masyarakat modern yang seringkali membiarkan anak menonton televisi tanpa pengawasan sebenarnya adalah hal yang menkhawatirkan untuk kesehatan anak itu sendiri. Televisi sudah mampu menggantikan peran seorang ibu sebagai madrasah pertama, pendidik perdana. Kecanggihannya dalam membombardir selama 24 jam terjaga nonstoplah sifat unggulya.

Hal yang baru saya ketahui adalah pembagian jadwal penayangan program televisi. prime time (18.00-21.30) menjadi waktu yang sangat diburu produsen untuk menaruh spot iklan mereka. Itu pula waktu diana keluarga Indonesia kerap menghabiskan waktu bersama untuk menonton. Untuk tayangan golongan kode D, dapat ditayangkan mulai pukul22.00-03.00, yang saya baru ketahui pula, iklan rokok harusnya juga ditayangkan mulai pukul 21.30 keatas. Di luar negeri, seleksi program tv sangat ketat dilaksanakan. Untuk setiap kekerasan (verbal non verbal) sudah memiliki aturannya tersendiri, masyaraktnya juga sudah sadar apa dampak yang ditimbulkan oleh kotak hitam tersebut.
Indonesia sebenarnya memiliki KPI sebagai wadah resmi pengawalan program sehat. Namun, masih sangat kurang dan memprihatinkan kesadaran masyarkat dalam literasi media. Televisi sendiri memiliki pengaruh positif bagi pendidikan yaitu memicu anak untuk merasa ingin tahu lebih. Tetapi, hal itu juga memiliki konsekuensi mematikan kreativitas anak untuk eksplorasi langsung dan mendapatkan pengalaman empiris karena apa yang dipaparkan di televisi seolah adalah nyata,


Solusi
Dari serangan kotak Pandora yang merajalela, karena tampaknya sudah membudaya, dapat ditanggulangi atau dicegah bahayanya dengan beberapa poin berikut ini
  1. Lakukan penyeleksian secara ketat tontonan apa yang akan dilihat keluarga anda (terutama yang masih kecil)
  2. Sediakan DVD edukatif selalu sebagai cadangan ketika tidak ditemukan acara yang baik
  3. Lakukan pengaduan ke lembaga KPI untuk konten acara yang meresahkan
  4. Terus lakukan pendampingan dan bimbingan kepada penonton yang masih dibawah umur/kecil
  5. Matikan tivi anda, ganti dengan membaca buku – buku.

Karena kemunculan televisi termasuk diawali dari sebuah mimpi untuk dapat melihat jendela dunia. Mengapa tidak ganti jendela dunia tersebut dengan buku jika sudah tak mampu memformat dan membentuknya sesuai hati?

pendamping:
Kekerasan di Layar Kaca, Muhammad Riyanto Rasyid, Kompas:2013
Analisis Wacana, Eriyanto

Senin, 30 Desember 2013

populasi kucing

Bulan puasa yang lalu, kami sekeluarga harus memendam rasa kangen yang cukup dalam kepada si cantik yang satu itu, Muezza. Pasalnya, ia sedang dioperasi sekitar pukul satu dinihari. Janin yang ada dalam rahimnya yang seharusnya melengkapi hidupnya walau sebagai single parent, justru berubah menjadi sesuatu yang membahayakan keberadaan ibunya. Muezza harus dipoerasi, kehilangan calon kitty saja sudah cukup membuat kami berkabung, ditambah lagi harus mengahadapi kenyataan bahwa Muezza harus menjalani hidupnya tanpa rahimnya! Sungguh tragis.

Kenapa kejadian ini begitu membuat hati kami terenyuh? Karena ia lah satu – satunya peliharaan yang bertahan dalam rumah kami lebih dari dua bulan (sejak kehilangan kelinci – kelinci lucu saat kami bertiga masih SD dulu, ada yang sakit, ada yang kabur, ada pula yang menurut laporan tetangga, dibawa kabur oleh seekor anjing). Baik, kita lupakan kelinci – kelinci tersebut (terutama yang minggat). Dari awal kehadirannya di rumah, kami tidak tahu bahwa ia sedang hamil. Ia diam – diam saja, tapi memang diakui, manjanya gakketulungan. Konon kata beberapa situs hasil sarching google, memang begitu perilaku kucing hamil. Kami kemudian merawat ia seperti kucing pada umumnya saja, tetap dimandikan, tetap diajak main, dll. Hingga saat ia sakit, dokter bilang bahwa ia hamil. Baru pula kami ketahui bahwa kucing yang sedang mengandung tidak diperbolehkan untuk mandi, bias keguguran.

Singkat cerita, Muezza diam saja seharian, lemas, saya dan kakak kemudian memacu laju kendaraan untuk membawanya ke seorang dokter. Dini hari ketika mendapat sms dari dokter tersebut yang mengabarkan konsisi Muezza sedang kritis, seringkali saya membathin betapa malang nasibnya sebagai perempuan. Harus kehilangan anak sekaligus rahimnya. Tapi bila dikilas balik, mendapatkan Muezza kembali sehat saja sudah syukur Alhamdulillah. Karena untuk melewati masa kritis pasca operasi, harapan dan kekuatan hanaya ada di tangan ALLAH dan Muezza sendiri.

Jadilah, ketika ia kembali sehat, kami menyambutnya dengan spesial. Mendekati dan memeperlakukan ia dengan lembut dan sayang. Hingga ketika kami hendak membawa ia ke salon yang sesekali kami pilih sebagai tempat mandinya, seorang ibu berkacamata dan ramah menyambut kami. Pertama kali saya berkunjung ke pet shop tersebut dengan membawa Muezza.

Pet shop tersebut cukup strategis letaknya, yakni di sebelah supermarket besar dan dipinggir jalan raya. Begitu membuka pintu, aroma makanan kucing menyeruak melesak kedalam hidung. Lantai yang putih dan bersih serta suhu AC yang cukup sejuk membuat pengunjung betah untuk berkunjung kesana.

“kamu pasti seneng deh Mi. Kucingnya kampung semua tapi bersih – bersih”, kata kakakku memberitahu.
Memang benar, ada sekitar tujuh hingga sepuluh kucing disana. Semuanya bermata lembut (atau ngantuk?). Semuanya jenis kucing lokal, tapi memang gemuk dan bersih – bersih. Tidak ada satupun yang agresif ketika disentuh atau diajak main. Jinak sekali. Begitu mengobrol dengan ibu ramah berkacamata, baru kami ketahui bahwa kucing tersebut memang mereka pelihara. Rajin dimandikan dan diberi makanan. Ditengah perbincangan, saya penasaran mengintip satu persatu jenis kelamin kucing – kucing tersebut. Hasil dari pengaamatan sederhana saya: variatif.
Jika kucing sebanyak ini hampir sepanjang hari (kecuali waktu makan dan mandi) berada di dalam toko, apakah tidak pernah terjadi kerepotan saat ada yang dalam masa birahi? Mengingat variasi jenis kelamin kucing – kucing tersebut. Dan, jika sedang ada yang bertengkar, apakah tidak khawatir merepotkan pengunjung? Kemudian, mengapa kucing – kucing itu tampak jinak nyaris selalu? Karena didapati mereka semua tiduran di sofa, di kolong meja, tertidur, memandang malas, atau sekedar diam memandang.

Jawabannya adalah, kucing – kucing tersebut rupanya sudah dinetralkan semua. Apa itu dinetralkan? Jika jantan, ia dikebiri, jika betina, ia diangkat rahimnya. Ctar! Jika discroll keatas, terbayang khan bagaimana sedihnya kami mengahadapi fakta bahwa Muezza akan mandul selamanya? Ia bukan hanya janda, tapi akan terus menjadi lone ranger. Fitrahnya sebagai seorang perempuan terrenggut. Ia takkan bias menjadi seorang induk yang membesarkan dan menyusui anak – anaknya. Satu kaleng kecil makanan kitty (kitten) masih kami simpan hingga kini. Tapi Ctar tadi hanya saya simpan dalam hati, saya balut dengan anggukan dan senyuman pertanda siap mendengar cerita lebih banyak. Karena saya penasaran latar belakang dari penetralan itu.

Kucing – kucing tersebut sudah dinetralkan, lalu kenapa jumlahnya banyak? Rupanya, ia dan suaminya seringkali menemukan kucing di jalan, maka mereka pungut untuk mereka rawat jika terluka. Dan tak jarang ada saja manusia tega yang membuang anak kucing di depan pet shop mereka. Penetralan dimaksudnkan untuk menekan jumlah populasi kucing (sementara di Jakarta Bekasi). Berawal dari rasa iba melihat kondisi kucing yang porak poranda tampilannya, entah karena sakit atau habis jadi power ranger. Dan pemandangan kucing – kucing diakui merusak keindahan kota. Daripada banyak sekali kucing jalanan yang terlantar atau terkena penyakit ganas, maka, populasi kucing mesti ditekan. Dengan salah satu jalan: netralisasi.

Mungkin ini terdengar mirip dengan program pemerintah untuk menekan jumlah penduduk Indonesia. Tapi saya belum benar – benar yakin 100 persen, apakah gerakan netralisasi kucing jalanan ini adalah jalan keluar yang baik? Atau justru sebenarnya, adalah petaka?

Ibu itu memandang dan memuji Muezza, kami beritahu kronologi operasi Muezza. Kami juga memberitahunya bahwa pitak dibagian perut dan lengan Muezza adalah karena operasi pengangkatan Rahim. Responnya adalah

“Oh sudah dinetralkan? Bagus kalau begitu.” Ia tersenyum senang.
Saya dan kakak berpandangan lewat lirikan singkat, kemudian mengalihkan pembicaraan seraya tersenyum.

kekuatan pijakan bag. 1



Yang paling familiar, atau terasa akrab dalam benak saya dari sekian judul yang berdialog dengan saya adalah tentang surat 'Abasa. Surat dimana terdapat didalamnya teguran atas kesalahan, ajakan untuk bertafakkur, tadzakkur, takut akan kiamat, serta ciri orang yang mendapat hidayah.
Ketika seorang tuna netra, Abdullah ibn Ummi Maktum menghampiri Nabi yang kala itu sedang semangat berdakwah dihadapan petinggi Quraisy. Nabi membuat kesalahan dengan lebih mementingkan para petinggi Quraisy. Allah secara langsung menegur sang nabi secara tersirat (sindiran) lewat firman-Nya, "wa huwwa yakhsya" (sesungguhnya, ia seorang yang takut kepada Allah swt).

Teguran. Dikutip dari suatu literatur bahwa seseorang yang memberikan berlian kepada saudaranya dengan cara dilempar, orang tersebut hanya akan merasakan sakitnya saja, ia tak tahu bahwa yang dilempar adalah batu berlian, atau bahwa berlian adalah benda yang bernilai sangat tinggi. Dari ilustrasi berlian diatas didapati bahwa cara menegur adalah penting untuk diperhatikan. Kita bisa memetik pelajaran dari surat Abasa diatas. Bahwa Allah menegur Nabi nya yang ketika itu berbuat khilaf lewat deskripsi bahwa yang datang pada Nabi saat itu adalah seseorang yang takut kepada Allah. Teguran yang berupa desripsi itu tepat pada porsinya, tidak akan merendahkan yang ditegur secara terlalu hingga merasa malu, atau tidak juga kurang hingga yang ditegur tidak merasa.

Maka, suatu waktu, setelah mengetahui pentingnya perkara tegur menegur ini, kita bisa lebih berpikir lebih panjang, lebih jernih dan bijak sebelum meluruskan sesuatu.

Poin kedua yang ingin saya bahas adalah niat.
Terkadang terbersit keraguan, apakah yang saya lakukan ini adalah niat karena Allah atau karena makhluknya?
Menjenguk orang sakit misalnya, hanya karena tidak enak pada teman. Atau berbuat begini begitu, tergantung dan sangat terpengaruh pada apa yang nanti makhluk-Nya pikirkan. Ada sebuah kisah tentang kedelai, seorang bapak, dan anaknya. Cerita ilustrasi ini sudah seringkali dikisahkan. Hikmah yang dapat dipetik dari ilustrasi ini adalah, jangan ingin untuk sempurna dimata setiap orang, karena itu berarti kita menginginkan sesuatu yang mustahil kita capai. Ketika menolong orang lain, kita melakukannya karena apa? apakah karena mengharap ridho Allah atau agar terlihat 'tampan optimal' atau 'cantik maksimal' di mata makhluk-Nya?

Ternyata, ketika mempercayai bahwa jika kita menolong saudara kita, Allah pun akan menolong kita, itu termasuk beriman padaNya. Karena kita percaya pada firmanNya, dan hadist dari nabi-Nya.
Maka, setiap berbuat sesuatu, kita perlu mengecek terus niatan kita. Bukan hanya di awal, tetapi juga "ketika" dan "setelah" proses kegiatan atau rasa yang sedang berjalan dalam diri kita. Memang sulit, tetapi, untuk mendapatkan gadis pujaan terbaik, memang tidak mudah, khan? seperti kata seorang alim: tidak ada mahar yang mahal untuk gadis yang akan dipinang. hehe

poin ketiga, Allah's love is everywhere.
Saya sangat suka memenggal lirik lagu Maher Zain ft Irfan Makki- I believe

when you searching for the light,
and you see no hope in sight,
be sure and have no doubt,
He is always close to you

He is the one who knows you best
He's always in you heart
you'll find your peace at last,
if you just have faith in Him.. Allah..

Ketika futur menyapa, itu berarti kita pernah ada di posisi atas biang lala. hehe
Yang saya maksud adalah, ketika futur datang, itu berarti, kita pernah menjadi hamba yang dekat dengan-Nya.
Alhamdulillah~
Mungkin anda pernah merasakan, ketika sudah dekat dengan kedhaliman, atau kebathilan, atau kekhilafan, tiba - tiba saja ada hal yang membatalkan kita untuk melakukannya, atau mendekatinya. Itulah, cinta Allah ada dimana - mana. Kita terhindar dari sifat lalai, abai, keji, atau sifat buruk lainnya. Allah menyelamatkan kita dari kesalahan dan kekahalan iman.

ketika kita lupa padaNya, cemburukah Ia? pasti. Tapi, merasakah kita? jarang. Tidak jarang, hati jauh merasakan kesejukan yang sangat menentramkan hanya ketika sedang mendapat teguran dariNya, kemudian kita tenggelam larut sujud mengadu padaNya hingga sedu sedan didengar sendiri dalam jiwa. Suatu kejadian yang menguras pikiran, mengaburkan logika dan kejernihan qalbu, merasa diri terpuruk tak ada tempat bersandar lagi. Percayalah sahabat, Allah sebaik - baik tempat kembali.

hadist Qusi:
"Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya selama ia mengingat-Ku, dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingat-Nya di dalam diri-Ku, jika ia menyebut-Ku di hadapan manusia, maka Aku pun akan menyebutnya dihadapan makhluk yang lebih baik daripada mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepada-Nya sejauh satu hasta, jika ia mendekat kepada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat kepadanya sepanjang satu depa, jika ia mendekat kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendekat kepadanya dengan berlali- lari kecil. (HR Bukhari-Muslim)

"maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?" (QS. Ar Rahman)

sob, yakinlah bahwa Allah mencintaimu.
Jauh lebih dalam dari hujan pada angin yang menjadikannya tiada,,

#np depapepe-counts love

Aulia, Muhammad Lili Nur, 2011, Allah, Kokohkan Kaki Kami di atas Jalan-Mu, Jakarta: Tarbawi Press

Senin, 20 Mei 2013

Pencarian... tatapan awal yang salah




JBF. Jakarta Book Fair 2012. Sambil menunggu teman – teman lain memburu buku masing – masing, aku berusaha terus mencari sebuah novel fiksi. Gawat, aku lupa penerbitnya. Googling sebentar, barulah kemudian aku menemukan penerbit dari novel incaran. Serambi mizan penerbitnya, Rahasia Meedejudulnya, E.S Ito pengarangnya, 2008 tahun terbitnya. Mas – mas di Mizan bilang, jika buku sudah tidak ada di peredaran, akan dikembalikan ke percetakan. Maka aku tanya dimana percetakan Mizan. “Jagakarsa” katanya. Mengapa aku sampai segitunya berusaha mendapatkan novel itu? Begini ceritanya..
Awalnya saya bingung, kenapa judul novel ini adalah Rahasia Meede? Memang, di dalam buku ini menggunakan sedikit percakapan dan istilah – istilah Belanda. Barulah di 2/3 dari halaman buku, saya menemukan alasannya. Meede adalah nama putri dari Sr Erberveld. Dan Erberveld adalah keturunan dari salah satu anggota Monsterverbond. Suatu kelompok yang memegang kunci dimana letak harta karun VOC berada.
Yang membuat novel ini menarik adalah, novel ini memuat unsur – unsur yang tidak dimuat pada novel lain pada umumnya. Politik, sejarah, budaya dan hukum negeri kita tercinta, Indonesia. Semuanya dikemas dalam cerita yang menarik dan gagasan – gagasan cerdas. Pernah membaca komik Death Note? Menonton City Hunter? Seperti itulah kira - kira. Kejar – kejaran antara seorang dari organisasi intel profesional Sandi Yudha yang bernama Rudi, dengan seorang yang di cap sebagai buronan kejahatan politik, Attar Malaka.
Kamu tau apa lagi yang menarik? Seluruhnya di balut sastra, sajak potongan Chairil Anwar dan Tan Malaka. Novel ini menggambarkan dua orang sahabat yang saling memburu, mempertahankan ideology dan pemahaman masing – masing. Mereka sama – sama mencintai sastra, cinta Indonesia, namun bergerak dalam jalan masing – masing. Satu tokoh penting adalah seorang dengan nama sandi Melati Putih, ia sebagai eksekutor andal yang menumpas orang – orang kebal hukum (jadi seperti Lee Min Ho di City Hunter).
Pemburuan pemuda – pemuda mentawai yang bertato pada era Soeharto, kekecewaan mendalam terhadap eksekusi Tan Malaka, retaknya hubungan dwitunggal Hatta dan Soekarno, perburuan sahabat terbaik sekaligus musuh terhebat di pelosok Banda, hingga terpecahnya misteri kebangkrutan VOC dan emas – emas negeri yang direnggut Monsterverbond dari VOC. Rasanya, seluruh aspek dikemas oleh E,S Ito dalam novel ini. Komik secerdas dan selugas Death Note, Conan, City Hunter ditampilkan dalam novel ini. Rahasia Meede adalah novel pintar yang beraroma nuasantara. Salah satu bacaan yang menarik bagi kamu yang kritis akan perpolitikan Indonesia, penikmat sejarah dan pencinta sastra. Nusantara sangat. Puitis. Kritis. Nasionalis. Dan mengharukan.. J

#Kisah 2 pemuda yang merepresentasikan kecintaan pada negeri dengan cara berbeda, hingga akhirnya mereka tersadar, masa depan negeri kaya nan melarat ini ada di tangan generasi berikutnya!! Competition is not the way out, Cooperation is the most important.

btw, nama sandi salah satu tokoh utama disini adalah Attar Malaka. Saya dapet hal menarik dari Meraba Indonesia dan biografi Mohammad Hatta
Tan Malaka : nama aslinya Ibrahim, Malaka adalah nama gelar yang diberikan oleh penduduk Payakumbuh (desanya)
Mohammad Athar (Bung Hatta) : sejak kecil mendapat nama panggilan Atta

Minggu, 19 Mei 2013

khawatir #1

-Janji- 
sambil pegang hape, buru2 mau masuk kelas, baru aja selesai rapat acara A, acara B, dihadang ditengah jalan, dititipi pesan untuk acara C. Angguk2 aja sambil ngetik jarkom untuk acara A. 
Besoknya? Lupa dan lalai udah janji apa untuk acara C. 
Janji yang masuk kuping kanan, keluar kuping kiri. Lupa dicatet di note, apalagi di otak. 
Bukan hanya berjanji, kadang juga tanpa sadar mendesak yang lain untuk berjanji. Tapi dia sendiri lupa mungkin telah membuat org lain berjanji. 
Contoh: 
"taun depan bantu saya yaa..." 
berkali diucapkan. Anggukan kecil lawan bicara dianggap konfirmasi 'setuju' 
*spertinya sering terjadi di akhir kepengurusan organisasi. 



suatu sore. 
kulihat ia. Kemudian kutanya, "dalam berjanji, mana yang lebih sering kau jadikan pertimbangan untuk ditepati?" 
"Yang pertama datang, tentunya." katanya. 
Aku mengangguk. 
"bukan urgensi?" tanyaku lagi. 
dia menggeleng. 


Dikatakan urgensi belum tentu benar2 urgensi bila tak dini diutarakan. 
Dahulukan yang pertama datang (utk hal2 yg ada di taraf yang sama)

Jumat, 17 Mei 2013

Mencari Guru di Bukhara


Bocah berumur lima tahun itu asik saja bermain – main di halaman rumahnya. Kemudian ibunya, Sattarah, berpikir, apakah yang dapat dikerjakan anak seumuran dia agar waktunya bermanfaat? Maka Ayahnya, Abdullah, mencarikan guru untuknya. Anak seusia lima tahun, daripada membuang – buang waktunya, lebih baik ia belajar Al Qur’an dan dasar – dasar agama pada Syekh Nahawi.

Lima tahun kemudian. Bocah itu, Abu Ali ibn Sina, melantunkan ayat Qur’an ketika Syekh Nahawi bertamu kerumahnya. Tau apa yang ingin dikatakan Syekh pada orang tua Abu Ali? Tak ada secuil ilmu pun yang berbeda antara dirinya dan diri muridnya. Al Qur’an pun sudah dihapal oleh Abu Ali. Betapa rasa syukur memenuhi rongga dada Abdullah. Sepuluh tahun, dan Abu Ali sudah mampu memahami ayat Qur’an. Karena tak ada apapun lagi yang dapat diajarkan oleh Syekh Nahawi, daripada waktu Abu Ali terbuang percuma, Syekh Nahawi menyarankan agar Abu Ali mencari guru lain selain dirinya.

Setelah belajar ilmu agama, Abu Ali selalu berpindah dari satu guru ke guru lainnya. Setelah belajar ilmu matematika, hasad dan aljabar, dilanjutkan ilmu filsafat dan logika, barulah kemudian waktu Abu Ali diisi dengan membaca buku kedokteran.

Pada saat itu, Bukhara penuh dengan guru, maka siapapun akan dengan mudah mencari guru sesuai bidang yang diingini.
Dikutip dari:
(Tawanan Benteng Lapis Tujuh, Husayn Fattahi, 2011:13-26)


Dari cerita diatas dapat ditangkap bagaimana cara menimba ilmu pengetahuan pada tahun 900M. Belajar pada guru mulanya memang untuk mengisi waktu kosong, dan yang menimba ilmu sedalam Abu Ali memang akan berakhir menjadi seorang ilmuwan ternama seperti Al Firdausi, Al Biruni, dll. Ilmu dan pendidikan pada masa itu memang tidak diwajibkan, kalaupun ada yang menimba, memang untuk menjadi ilmuwan atau kedokteran atau bidang keahlian lainnya.

Perbedaan yang sangat mencolok dengan sistem menimba ilmu pada zaman sekarang. Sekolah memang wajib, tapi karena penyeragaman serta pengkotak – kotakan yang kerap terjadi jsutru mampu membunuh kreativitas dan identitas kecerdasan alami subyek pendidikan kedua.
Pada cerita diatas juga didapatkan bahwa pendidikan terpenting yang mesti pertama kali diajarkan pada seseorang adalah pendidikan agama. Dengan mengenal Tuhannya, diaharpakan kedepannya orang ini mampu memaknai ilmu dengan bijak. Tidak terjebak filsafat sana – sini, apalagi sampai meragukan Tuhannya. Karena seperti yang dipaparkan Imam Al Gahazali, tujuan pendidikan adalah menjadi insan kamil, sebaik – baiknya manusia.

Further reading:
Bangsa terdidik atau tersekolah- Prof, Winarno
Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan- Drs. Abidin Ibnu Rusn(pnrjmh)

Rabu, 15 Mei 2013


Paparan (retell)


Judul : Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan
Penerbit : Pustaka Pelajar
Penerjemah : Drs. Abidin Ibnu Rusn
Tahun Terbit : cetakan I 1998, Cetakan II 2009
Tebal Buku : 144 halaman

rangkuman:
Tokoh ini lebih terkenal dengan karya filsafatnya, Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosuf) yang kontroversial dan menganggap mematikan kekritisan umat Islam.  Al-Ghazali dilahirkan pada masa munculnya mazhab – mazhab dalam ummat Islam. Pemikirannya termasuk fenomenal karena ia merasa manusia dilahirkan sudah dalam keadaan fitrahnya sebagai muslim, sedangkan orang tua serta lingkungannyalah yang membuat kita terkotak-kotak. Nasrani, Yahudi, Hidu, Budha, termasuk penganut aliran atau mazhab – mazhab tertentu. Begitulah profil singkat Al-Ghazali.

Al-Ghazali sendiri telah banyak menghasilkan karya – karya bermanfaat bagi khalayak. Salah satunya adalah Ihya' 'Ulumiddin, karyanya sebagai tokoh pendidikan. Al Ghazali menjalani profesi terakhirnya sebagai ahli pendidikan yang kurang banyak disorot oleh orang – orang. Ihya' 'Ulumiddin kemudian menjadi dasar yang sebagian besar digunakan sebagai landasan pengulasan buku pemikiran tentang pendidikan menurut Al Ghazali ini.

Bab setelah pengenalan tokoh adalah pemikiran Al Ghazali tentang manusia, esensi, awal tercipta serta pengklasifikasiannya. Al Ghazali menglasifikasikan manusia sebagai umum, khusus, dan khusussul khusus. Dalam penjelasannya dapat diinterpretasikan bahwa penggolongan tersebut adalah berdasarkan Islam. Tentang bagaimana seorang manusia memandang dunia dan membandingkan pemahaman mereka akan akhirat.

Kemudian penjelasan tentang Ilmu. Dalam Ihya' 'Ulumiddin, Al Ghazali membagi Ilmu menjadi tiga cabang yaitu:
Epistemologis: cabang ilmu filsafat tentanh dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan
Ontologis: cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan hakikat hidup.
Dan Aksiologis: 1 kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia; 2 kajian tentang nilai, khususnya etika: (K
Dalam skema tersebut, terlihat bahwa Al Ghazali menghubungkan semua bidang ilmu hanya demi untuk kepentingan akhirat dan sesuai dengan kaidah Islami.

 Dalam bab selanjutnya, dipaparkan pemikiran Al Ghazali tentang pendidikan. Pengertian pendidikan menurut Al Ghazali adalah
“Proses memanusiakan manusia sejak masa kejadiannya sampai akhir hayatnya melalui berbagai ilmu pengetahuan yang disampaikan dalam bentuk pengajaran secara bertahap, dimana proses pengajaran itu menjadi tanggung jawab orang tua dan masyarakat menuju pendekatan diri kepada Allah sehingga menjadi manusia sempurna.” (Rusn 2009: 56)
Dan tujuan dari pendidikan menurut Al Ghazali adalah untuk menjadi manusia shalih, menuntut ilmu hingga mencapai tingkat menyerupai malaikat dan tujuan jangka pendeknya adalah menjadi manusia yang bermanfaat di dunia.

SUBYEK DIDIK
Al Ghazali membagi subyek didik menjadi dua, yaitu Guru atau pendidik serta murid. Al Ghazali menerangkan bahwa sebagai guru, peran, kewajiban dan pahalanya lebih besar daripada orangtua. Karena orangtua adalah perantara seorang anak terlahir di dunia, sedangkan guru adalah perantara seorang anak mengenal dan berbekal di akhirat. Guru pun harus bersikap sebagai pengganti orangtua, bukan hanya orang asing yang dibayar untuk mentransfer ilmu semata. Karena kembali lagi pada tujuan pendidikan adalah demi mendekatkan diri pada Allah.

Murid dalam pandangan Al Ghazali mestinya seorang yang senantiasa tawadhu dalam belajar dan diajar. Bagai tanaman kering yang disiram oleh air yang menyejukkan, mesti senantiasa bersemangat dan sangat menjunjung tinggi seorang guru. Tawadhu dalam menuntut ilmu juga diartikan tidak sombong terhadap ilmu yang telah dimiliki atau sedang dipelajari. Juga, seorang murid mesti senantiasa memiliki pemahaman dasar sebelum bertukar pendapat. Agar tidak seenaknya mendebat atau menyanggah apalagi menyatakan sesuatu adalah salah.

 Pemahaman dasar itu penting.
Memahami tujuan serta manfaat pengajaran dan pendidikan pun penting bagi murid, agar senantiasa lurus tujuannya, akhlakul karimah.

KURIKULUM PENDIDIKAN
 Al Ghazali menyayangkan system pendidikan yang menerapkan system sekuler. Pemisahan aturan agama dengan duniawi. Pendidikan saat ini yang berlaku di Indonesia juga seperti itu, menganut pragmatism John Dewey. Yang sebetulnya menguntungkan kaum kapitalisme dan tidak lain tidak bukan, hasil dari pendidikan saat ini adalah calon – calon pekerja. Bukan pemikir.
         Maka, Al Ghazali menyarankan suatu system kurikulum yang kembali lagi menuju akhirat. Berpegangan pada dua peninggalan nabi besar Muhammad saw. Yaitu Al-Qur’an dan Sunnah. Al Ghazali meyakini bahwa manusia (ruh atau jiwa) pada awalnya adalah sama, akan senantiasa mendekatkan diri pada Allah. Namun setelah menyatu dengan fisik, manusia menjadi berbeda – beda. Tidak bisa dan tidak boleh disamakan. Maka, berdasarkan HR Ibnu Hibban dari Anas bin Malik, Al Ghazali membedakan tahap tahap pembelajaran berdasarkan usia dan psikologis seorang manusia sejak usia: 0-6 tahun, 6-9 tahun, 9-13 tahun, 13-16 tahun serta 16 tahun keatas.

Seluruh tahap disesuikan dengan peran serta bimbingan orang tua, serta tahap pertanggungjawabannya dihadapan Allah nantinya.

Terdapat empat bentuk pendidikan ala Al Ghazali; pendidikan akal, agama, akhlak, dan jasmani. Dengan menekankan pada pendidikan agama dan akhlak. Al Ghazali menekankan kurikulum yang berdasarkan Al Qur’an, yakni membaca, menghafal, memahami arti, dan mengkaji maksud. Maka Al Ghazali tidak memisahkan metode pendidikan seperti yang saat ini terjadi. Karena Al Qur’an memang tidak pernah memisahkan aspek satu dengan lainnya. System pendidikan yang terintegrasi.

Al Ghazali juga menerangkan tentang evaluasi. Apa pentingnya evaluasi bagi pemimpin, subyek didik, wali murid, dan tenaga administrasi.
Didukung oleh kutipan sebagai berikut;
Nabi Muhammad saw, bersabda: “Seyogyanya bagi orang yang berakal mempunyai empat bagian waktu, dan satu bagian waktu darinya digunakan untuk mengevaluasi dirinya”

Inti: Al Ghazali bukan hanya ahli tasawuf, sedikit orang yang telah mengenalnya sebagai ahli pendidikan.  Ia dipahami memandang pendidikan dengan sistem integrasinya. Hal ini diterapkan dalam system pendidikan di pesantren. Integrasi antara iman, ilmu, dan amal. Ia juga mengritik pemisahan yang dilakukan oleh pemikir – pemikir Barat yang berorientasi pada pragmatism. Hal yang justru memporakporandakan tujuan pendidikan sesungguhnya: mendekatkan diri pada Allah.

Kesimpulan: Buku ini sangat padat, ringkas dan lengkap. Karena membahas secara detail dari awal mula, tokoh yang dibahas, pandangannya tentang manusia, pendidikan, aktualisasinya terhadap pendidikan dewasa ini.

Untukmu yang ingin tau lebih banyak asal – usul tercetusnya integrated learning, buku ini sangat direkomendasikan.

-pandang yang baik, tak usah terlalu
dipusingkan yang tak dianggap benar-
(KIT)